Pemerintah Jepang Siapkan Stimulus COVID-19 Mencapai Rp 1,4 Kuadriliun

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Tokyo - Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga rencananya akan mengumumkan rencana stimulus baru pada minggu depan untuk membantu ekonomi yang dilanda resesi sekaligus melepaskan diri dari krisis Virus Corona COVID-19.

Hal ini disampaikan oleh empat sumber pemerintah dan partai berkuasa yang mengetahui masalah tersebut.

Meskipun ukuran bantuan masih belum diputuskan, beberapa anggota parlemen partai yang berkuasa telah meminta satu dari sekitar ¥ 10 triliun (Rp 1,4 kuadriliun) untuk meredam pukulan dari pandemi COVID-19, seperti mengutip Channel News Asia, Rabu (28/10/2020).

Sebagian besar bantuan akan terdiri dari sekitar 7 triliun yen yang tersisa dari kumpulan 10 triliun yen yang disisihkan untuk memenuhi kebutuhan darurat guna memerangi pandemi. Sedangkan sisanya akan digunakan untuk pengeluaran baru, tambah mereka.

Ukuran total bantuan kemungkinan akan lebih kecil dari gabungan US $ 2,2 triliun yang diluncurkan dalam dua paket stimulus awal tahun ini, kata mereka.

"Lebih baik menghindari membuat jurang fiskal Jepang lebih curam" dengan menaikkan pengeluaran jangka pendek terlalu banyak, salah satu sumber mengatakan.

Bantu Bangkitkan Ekonomi

Ilustrasi bendera Jepang (AFP/Toru Yamanaka)
Ilustrasi bendera Jepang (AFP/Toru Yamanaka)

Paket bantuan tersebut kemungkinan akan mencakup perpanjangan program yang ada, yang menawarkan subsidi untuk membantu perusahaan mempertahankan pekerjaan dan mengatasi kendala pendanaan, kata sumber tersebut.

Pemerintah juga diperkirakan akan memperpanjang kampanye yang digaungkan pada Januari lalu dan menawarkan diskon untuk perjalanan domestik guna menyelamatkan industri pariwisata negara itu, kata sumber tersebut.

Anggaran tambahan ketiga akan dikumpulkan sekitar pertengahan Desember untuk mendanai sebagian dari paket tersebut.

Setelah mencatat kontraksi pascaperang terburuk pada kuartal kedua, ekonomi Jepang diperkirakan telah pulih dalam tiga bulan hingga September.

Namun pemulihan masih tidak merata dan rapuh, karena berlanjutnya pelemahan konsumsi dan belanja modal mengimbangi rebound dalam ekspor dan output, sehingga membuat pembuat kebijakan berada di bawah tekanan untuk menambah dukungan fiskal dan moneter.

Analis, bagaimanapun, mengatakan paket stimulus baru yang diharapkan hanya akan memiliki efek terbatas dalam meningkatkan pertumbuhan.

"Ukuran paket tidak diharapkan sebesar itu," kata Takeshi Minami, kepala ekonom di Norinchukin Research Institute.

"Itu berarti langkah-langkah tersebut kemungkinan akan fokus pada meletakkan dasar pada pertumbuhan, daripada menstimulasi ekonomi."

Saksikan Video Pilihan di Bawah ini: