Pemerintah kaji vaksin "booster" Pfizer, Sinovac dan AstraZeneca

·Bacaan 1 menit

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pemerintah tengah mengkaji pemberian vaksin booster dari produsen Pfizer, Sinovac dan AstraZeneca

“Akan dilakukan revisi Perpres dan Permenkes dan pemerintah akan mengupayakan ini secepatnya dan proses ini sedang melakukan kajian dan sedang berproses di Badan POM,” kata Menko Airlangga dalam Konferensi Pers PPKM secara daring, Senin.

Airlangga menambahkan sesuai arahan Presiden Jokowi, pemerintah juga menyiapkan beberapa opsi untuk vaksin booster. Diantaranya vaksin merah putih yang dikembangkan BUMN dengan Baylor Collage, termasuk vaksin kerja sama antara Universitas Airlangga dengan Biotis Pharmaceutical, Kalbe Farma dengan Genexine hingga vaksin Nusantara.

“Ini akan segera dimatangkan, disiapkan regulasinya termasuk regulasi daripada harga masing-masing vaksin tersebut,” ujarnya.

Lebih lanjut Airlangga juga menyampaikan realisasi dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Klaster Perlindungan Sosial mencapai 86,4 persen, klaster Program Prioritas mencapai 74,2 persen, dukungan UMKM dan Koperasi yanag realisasi insentif usahanya telah mencapai 100 persen atau senilai Rp63,16 triliun.

“Klaster kesehatan itu sekarang dan prognosa-nya diharapkan tetap sekitar 90,3 persern dari pagu yang dicapai dalam berbagai program, dimana di klaster kesehatan sampai sekarang ini masih 68,6 persen,” ungkap AIrlangga.

Baca juga: Efikasi vaksin Sputnik V plus "booster" capai 80 persen lawan Omicron
Baca juga: Ari Dwipayana : Pemerintah dorong booster vaksin mulai Januari 2022
Baca juga: Booster vaksin COVID-19 haruskah sama seperti vaksin sebelumnya?

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel