Pemerintah Maladewa Tuai Kecaman Setelah Izinkan Kedatangan Presiden Sri Lanka

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemerintah Maladewa mendapat kecaman setelah mengizinkan kedatangan Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa yang kabur dari negaranya pada Rabu dini hari. Pemerintah Maladewa dituding membantu Gotabaya menghindari upaya peradilan setelah disalahkan atas krisis terburuk yang melanda Sri Lanka.

Gotabaya terbang ke negara tetangganya itu beberapa jam sebelum menunaikan janjinya untuk mundur dari jabatannya, sebagaimana tuntutan rakyat. Presiden berusia 73 tahun itu terbang menggunakan pesawat Angkatan Udara Sri Lanka bersama istrinya, Ioma Rajapaksa dan dua ajudan ke ibu kota Maladewa, Male, sebagaimana dikonfirmasi Angkatan Udara Sri Lanka.

Pada Rabu sore, ekspatriat Sri Lanka yang tinggal di Maladewa berunjuk rasa di Male, membawa spanduk bertuliskan: "Kawan-kawan Maladewa tercinta, Tolong desak pemerintah kalian jangan melindungi penjahat," dikutip dari Al Jazeera, Jumat (15/7).

Polisi huru hara menyita spanduk dan selebaran para pengunjuk rasa dan membubarkan mereka. Satu orang warga Sri Lanka ditangkap.

Di media sosial dan kolom komentar berita media, warga Maladewa mengecam pemerintah dan mengungkapkan solidaritasnya untuk para pengunjuk rasa Sri Lanka. Mereka menyebut keputusan pemerintah untuk memfasilitasi keberangkatan Gotabaya "memalukan". Dari Maladewa, Gotabaya dilaporkan terbang ke Singapura menggunakan pesawat Saudi Airlines. Dari Singapura, Gotabaya akan terbang ke Jeddah, Arab Saudi.

Warga Maladewa juga khawatir terkait keselamatan sekitar 8.000 warga Maladewa di Sri Lanka di tengah kericuhan yang berlanjut.

"Menampung Gotabaya Rajapaksa dan membantunya menghindari pertanggungjawaban atas kejahatan perang dan korupsi adalah sebuah pengkhianatan terhadap rakyat dan aktivis Sri Lanka yang mendukung perjuangan demokrasi di Maladewa," ujar Pelapor Khusus PBB dan mantan Menteri Luar Negeri Maladewa, Ahmed Shaheed di Twitter.

"Mengapa satu orang menjadi lebih penting bagi negara Maladewa sementara jutaan orang kelaparan dan menderita? Tidak ada satu pun yang memberi jawaban!" kritik Ismail Naseer, editor koran ternama di Maladewa dalam editorialnya.

Sebagian besar kemarahan diarahkan pada Ketua Parlemen Maladewa, Mohamed Nasheed. Mantan presiden tersebut dilaporkan turun tangan setelah pengendali lalu lintas udara (ATC) Maladewa menolak permintaan pendaratan pesawat Gotabaya. Media lokal melaporkan, Nasheed terlihat di bandara sebelum pesawat Angkatan Udara Sri Lanka mendarat sekitar pukul 03.00 waktu setempat.

Nasheed menuai kritik baik dari warga Maladewa maupun Sri Lanka.

"Di mana kepemimpinan/keadilan untuk masyarakat Sri Lanka? Apa yang membuat Anda memfasilitasi perlindungan sementara Gotabaya yang menyebabkan jutaan orang menderita?" tulis salah satu pengguna Twitter, Shihar Aneez.

Kementerian Luar Negeri dan kantor presiden Maladewa belum mengeluarkan pernyataan terkait hal ini. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel