Pemerintah Minta UGM Produksi GeNose hingga 15 Ribu per Bulan

Fikri Halim, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, permintaan terhadap alat deteksi COVID-19, GeNose, akan mengalami peningkatan pesat di masa yang akan datang.

Oleh sebab itu, Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional tersebut meminta Universitas Gadjah Mada (UGM) selaku promotor untuk bisa meningkatkan kapasitas produksi GeNose.

Saat ini, Airlangga menyebutkan, produksi GeNose sudah mencapai 3 ribu per bulannya. Namun, pada Juni-Juli 2021, diharapkannya UGM mampu memproduksi alat tersebut sebanyak 10-15 ribu per bulan.

"Sebagai promotor UGM bisa replikasi manufaktur yang ada. Tentu dengan demand banyak produksinya harus ditingkatkan," kata dia di kantornya, Jakarta, Senin, 22 Maret 2021.

Target produksi tersebut diharapkannya bisa tercapai karena permintaan GeNose pada dasarnya sudah sangat besar di pasaran. Saat ini, permintaan GeNose diklaimnya telah mencapai 20 ribu.

"Sudah 20 ribu untuk industri apalagi diberikan masing-masing GeNose, artinya kalau industri beli GeNose kan enggak cuma satu, minimal 5-10 unit," tegas Ketua Umum Partai Golkar ini.

Selain itu, Airlangga menekankan, kemampuan produksi ini juga harus ditingkatkan karena di beberapa negara juga sudah mulai mengembangkan teknologi deteksi COVID-19 serupa karya anak bangsa tersebut.

"Sejenis GeNose yaitu Breathomix di Singapura yang juga digunakan uji klinis di Dubai serta SpiroNose dari Belanda. Ini tentu membanggakan karena produksi dan inovasi dari dalam negeri," ungkap Airlangga.

Saat ini, GeNose memang telah mulai digunakan di tempat-tempat publik, khususnya oleh PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) di berbagai stasiun miliknya. Namun dia berharap ini terus digunakan di tempat lain.

Misalnya, di tempat-tempat yang memerlukan mobilitas tinggi lainnya seperti di bandara dan pelabuhan hingga di sekolah atau perguruan tinggi maupun di pusat-pusat produksi seperti pabrik-pabrik.

"Ini bisa kita dorong jadi tentu ada layer pengetesan. Screening awal dengan GeNose, Screening kemudian bisa PCR, sehingga costnya bisa turun tapi yang harus kita kejar adalah kapasitas produksi," tegas dia.