Pemerintah Percepat Bentuk Bullion Bank Demi Kelola Emas

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Pemerintah harus segera membentuk bullion bank, dalam rangka mengelola komoditas emas seiring dengan Indonesia yang memiliki tambang emas sangat besar.

Bullion bank merupakan bank yang melakukan transaksi pembelian dan penjualan logam mulia.

“Terkait dengan bullion Bank, karena bullion bank di Pegadaian juga sudah punya kita sebut hidden aset,” kata Menko Airlangga dalam sambutannya di acara peluncuran Buku Pembiayaan UMKM, Kamis (11/11/2021).

Dia menegaskan, Indonesia sebagai salah satu produsen emas yang pasti terbesar di Asia seharusnya bisa memanfaatkan produksi emas dengan baik, karena Indonesia memiliki Grasberg yang merupakan tambang emas terbesar di dunia. Lokasinya terletak di dekat Puncak Jaya, Mimika, Papua.

Adapun sebelumnya, Menko Airlangga menyebut Indonesia juga merupakan negara produsen emas terbesar ketujuh di dunia dengan produksi 2020 mencapai 130 ton per tahun atau 4,59 juta ounce.

“Sehingga kita tidak perlu dalam tanda petik memarkir emasnya di Singapura di Bullion bank Singapura. Karena saat sekarang kan yang terjadi begitu karena dalam tanda petik menghindarkan PPN,” ujarnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Lebih Efisien

Ilustrasi Logam Mulia (iStockphoto)
Ilustrasi Logam Mulia (iStockphoto)

Maka kedepannya tidak perlu lagi melakukan ekspor barang ke Singapura dalam bentuk emas kemudian masuk kembali ke tanah air untuk dikerjakan sebagai cost of manufacturing, lalu diekspor kembali ke luar negeri.

“Sehingga ini kita sudah bolak-balik rapat mungkin ini perlu dipercepat karena itu menjadi aset dari PT Pegadaian 75 persen adalah emas,” pungkasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel