Pemerintah Perlu Perhatikan Kehidupan Mantan Atlet

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan pebulutangkis nasional, Rudy Hartono mengatakan, kondisi para mantan atlet di tanah air masih sangat memprihatinkan.

Meski telah ada upaya dari pemerintah untuk bisa menjembatani persoalan ekonomi yang kerap melilit mantan atlet, namun itu belum bisa merangkul seluruh aspek. Persoalan ini yang kemudian menjadi makin serius seiring sulitnya mencari penghidupan di usia yang tak lagi produktif.

"Dampaknya sangat besar, Di satu sisi, mereka yang dulunya menjadi pahlawan olahraga, membawa nama baik bangsa, mengharumkan Indonesia, banyak yang masa tuanya sengsara. Di sisi lain, itu sangat berimbas pada makin minimnya generasi penerus atlet. Sekarang siapa yang mau menjadi atlet, jika ancamannya adalah, menjadi atlet itu bakal kere. Bakal miskin. Penghargaan untuk mantan atlet itu belum ada," ujar Rudy Hartono yang bergabung dengan Yayasan Olahragawan Indonesia (YOI).

YOI sendiri, menurut Rudy Hartono merupakan ide serta inisiatif mantan-mantan atlet yang merasa terpanggil dengan keadaan rekan-rekannya yang lain yang dinilai kurang beruntung di masa tua mereka. YOI bahkan memiliki program membantu para mantan atlet yang kurang mampu dengan memberikan bantuan asuransi kesehatan, pendidikan untuk anak-anak mantan atlet, hingga bantuan modal usaha.

"Kita tidak usah menyalahkan siapapun. Kondisi seperti ini memang terjadi di negara kita. Jika dibandingkan negara lain, sangat jauh berbeda. Atlet merupakan aset bangsa, dan setelah tidak lagi menjadi atlet, mereka mendapat perhatian besar pemerintah, Bahkan, di Cina itu, mantan atlet mendapatkan dana pensiun dari pemerintah," ujar pahlawan bulutangkis yang menyabet 8 kali All England tersebut.

Menurut Rudy Hartono, jika persoalan serius ini tidak bisa diselesaikan dengan segera, maka yang terjadi adalah minimnya keinginan para orang tua yang ingin menjadikan anaknya sebagai atlet. Puncaknya, Indonesia akan kekurangan sumber atlet lantaran ketakutan akan nasib jika menjadi atlet setelah otot mereka tak lagi dibutuhkan untuk membawa panji-panji bangsa. (*)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.