Pemerintah Prediksi Ekonomi Minus 0,1 Persen di Kuartal I, Ekonom: Ketinggian

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, menilai proyeksi pertumbuhan ekonomi pada rentang minus 1 persen hingga minus 0,1 persen yang dicanangkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) masih terlalu ketinggian.

Bhima memperkirakan, ekonomi nasional pada triwulan pertama tahun ini masih terjebak resesi, atau terkontraksi negatif di kisaran -1 hingga -2 persen.

"Kemenkeu masih overshoot alias optimistis. Triwulan I 2021 diperkirakan ekonomi masih bergerak negatif -1 sampai dengan -2 persen, atau lebih dalam resesinya dibanding proyeksi pemerintah," kata Bhima kepada Liputan6.com, Selasa (23/3/2021).

Menurut dia, salah satu indikator pertumbuhan ekonomi belum akan bergerak banyak yakni tekanan pada sisi permintaan masyarakat yang rendah. Itu disebabkan lantaran sektor industri belum bergerak ke posisi normal.

"Sementara pertumbuhan negatifnya tidak sedalam kuartal IV 2020 lalu karena ada bantuan rebound harga komoditas baik batubara maupun CPO (minyak sawit mentah)," ujar Bhima.

Program vaksinasi Covid-19 juga disebutnya jadi pendorong vital pemulihan ekonomi nasional. Meski jumlah penerima vaksin saat ini terus naik, namun itu belum banyak menyentuh masyarakat hingga ke pelosok daerah.

Sehingga Bhima menilai proyeksi ekonomi tumbuh positif baru akan terjadi pada kuartal II atau III 2021 nanti. Dengan catatan, kegiatan ekonomi dapat berjalan baik saat lebaran 2021 nanti.

"Di kuartal ke II kita masih mencermati dampak Ramadan dan Lebaran terhadap konsumsi rumah tangga maupun belanja pemerintah. Kalau ada perubahan kebijakan pada momen Lebaran maka proyeksi bisa di-downgrade atau direvisi ke bawah," tuturnya.

Sri Mulyani Prediksi Ekonomi Indonesia Minus 1 Persen di Kuartal I 2021

Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski pertumbuhan ekonomi masih di level negatif, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut setidaknya ada perbaikan di kuartal III 2020. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski pertumbuhan ekonomi masih di level negatif, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut setidaknya ada perbaikan di kuartal III 2020. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memprediksi Indonesia masih terjebak dalam jurang resesi. Ia memperkirakan ekonomi Indonesia minus 1 hingga minus 0,1 persen di kuartal I 2021.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia mungkin masih di kisaran minus 1 persen hingga minus 0,1 persen untuk kuartal I 2021," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Selasa (23/3/2021).

Meski masih resesi, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menganggap ekonomi Indonesia sudah menunjukan progres pemulihan dibanding kuartal-kuartal sebelumnya.

Untuk sepanjang 2021, Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tumbuh positif antara 4,5-5,3 persen.

Proyeksi tersebut lebih tinggi dari revisi perkiraan OECD sebesar 4,9 persen, IMF sebesar 4,8 persen, dan Bank Dunia sebesar 4,4 persen.

"Ini adalah suatu hal yang perlu kita jaga dari sisi konsistensi proyeksi, terutama kalau ada tanda-tanda pemulihan ekonomi untuk terus diperkuat," kata Sri Mulyani.