Pemerintah Sebut Tudingan PeduliLindungi untuk Tambang Data Hoaks

·Bacaan 1 menit
Calon penumpang KRL memindai kode batang melalui aplikasi PeduliLindungi di Stasiun Manggarai, Jakarta, Selasa (7/9/2021). PT KAI Commuter melakukan uji coba penggunaan aplikasi PeduliLindungi bagi pengguna KRL di 11 stasiun, diantaranya Sudirman, Kebayoran, dan Palmerah (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI membantah tudingan yang menyebutkan Aplikasi PeduliLindungi disalahgunakan oleh pemerintah.

Sempat beredar di media sosial terdapat klaim yang menyatakan pemerintah telah melakukan penyalahgunaan Aplikasi PeduliLindungi untuk keperluan data mining pemerintah. Data mining sendiri merupakan pengambilan informasi penting sebuah individu atau organisasi tertentu dari sebuah platform.

"Disebutkan pula bahwa aplikasi ini dipakai pemerintah untuk memata-matai pengguna kartu vaksinasi, sehingga telah menginspirasi para hacker untuk mengontrol ponsel WNI lewat database PeduliLindungi," bunyi artikel di website Kominfo, Senin (7/9/2021).

Kominfo menyebut Aplikasi PeduliLindungi hanya digunakan untuk mengamati secara sistematis dan konsisten untuk menghadirkan penanggulangan efektif (surveilans kesehatan) terhadap virus covid-19 dan bukan untuk memata-matai.

Aplikasi PeduliLindungi juga hanya dapat merekam data proximity (kedekatan) antara telepon seluler seseorang dengan orang di sekitarnya. Sehingga tidak dapat mengontrol isi ponsel penggunanya di luar aplikasi dan tidak dapat merekam letak geografis nyata penggunanya.

Nomor telepon genggam yang didaftarkan akan direlasikan dengan ID random di dalam server yang aman. "Data tidak akan diakses, kecuali jika pengguna dalam risiko tertular Covid-19 dan perlu segera dihubungi oleh petugas kesehatan," tulis Kominfo.

(MG/ Azarine Jovita Halim)

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi partner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel