Pemerintah serap dana Rp8 triliun dari lelang enam seri sukuk negara

Pemerintah menyerap dana Rp8 triliun dari lelang enam seri Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk dengan penawaran yang masuk Rp20,21 triliun.

Dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR Kemenkeu) memerinci enam seri sukuk tersebut terdiri dari SPNS15112022, PBS031, PBS032, PBS030, PBS029, dan PBS033.

Adapun jumlah nominal dimenangkan terbesar berasal dari seri PBS031 senilai Rp4,05 triliun dari penawaran masuk Rp5,91 triliun dan ditetapkan imbal hasil atau yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan 5,25435 persen.

Sedangkan dana yang diraup paling sedikit berasal dari lelang PBS032 sebesar Rp300 miliar dari penawaran Rp2,78 triliun, dengan ditetapkan yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan 5,99632 persen.

Dari sukuk yang memiliki tenor terpanjang atau PBS033, dana yang diserap juga sama sedikitnya yaitu Rp300 miliar dari penawaran masuk Rp858 miliar dengan imbal hasil rata-rata tertimbang yang dimenangkan sebesar 7,2481 persen.

Kendati begitu, jumlah penawaran masuk terbesar terlihat pada seri SPNS15112022 yaitu Rp7,91 triliun dengan yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan 2,105 persen, sehingga diserap dana Rp2,45 triliun dari lelang sukuk seri tersebut.

Sementara jumlah penawaran masuk terkecil tercatat pada seri PBS030, yakni Rp591 miliar dan diraup dana Rp400 miliar, dengan yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan 6,40692 persen.

Dari seri PBS029, jumlah penawaran masuk mencapai Rp2,14 triliun dan jumlah nominal yang dimenangkan Rp500 miliar dengan imbal hasil rata-rata tertimbang yang dimenangkan sebesar 7,11963 persen.

Baca juga: Kemenkeu terbitkan sukuk Program Pengungkapan Sukarela Rp109,68 miliar

Baca juga: Pemerintah terbitkan sukuk global senilai 3,25 miliar dolar AS

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel