Pemerintah siapkan 700 ribu hektare lahan untuk dukung swasembada gula

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan pemerintah sedang mempersiapkan 700 ribu hektare ladang tebu untuk mendukung target swasembada gula hingga 5 tahun ke depan.

"Tadi disampaikan kalau kita betul-betul bisa menyiapkan 700 ribu hektare, kita kan mandiri, kita kan swasembada gula dalam 5 tahun ke depan, dan akan saya siapkan yang 700 ribu itu," kata Presiden Jokowi di Mojokerto, Jawa Timur pada Jumat.

Presiden Jokowi menyampaikan hal tersebut seusai meninjau Kebun Tebu Temu Giring, Kabupaten Mojokerto, dan berdialog dengan sejumlah petani tebu.

"Sekarang baru dapat 180 ribu hektare. Kita butuhnya 700 ribu hektare, akan saya siapkan," tambah Presiden Jokowi.

Kebun tebu seluas 700 ribu hektare itu rencananya akan tersebar di berbagai wilayah Tanah Air.

"Iya tersebar, memang budaya menanam tebu yang baik memang di Jawa Timur bagus, Jawa Tengah bagus, di Jawa Barat juga bagus. Nanti kita akan lari ke luar (pulau) Jawa karena kalau lahan 700 ribu hektare juga bukan lahan yang kecil tapi ini akan dengan sekuat tenaga akan saya siapkan ya," ungkap Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi menyebut sudah ada varietas unggulan baru tebu yang dapat mendorong produksi.

Baca juga: Perluasan lahan tebu menuju terwujudnya swasembada gula

"Ini kita telah memulai sesuatu yang baru untuk urusan tebu, karena kita gunakan varietas yang paling baru ini. Tadi Doktor Plinio (pakar tebu dari Brasil) menyampaikan bahwa di sini tidak perlu pemupukan untuk yang nitrat, kemudian yang potas tidak perlu karena tanahnya sudah bagus. Ini yang sangat bagus," jelas Presiden.

Kepala Negara menuturkan bahwa penanaman tebu dengan varietas baru dalam waktu 26 hari menunjukkan hasil yang baik. Bahkan hasil penanaman tebu varietas baru di Tanah Air menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan di Brasil.

"Dengan telah ditanam (varietas baru) ini yang sudah 26 hari, dilihat tadi hasilnya luar biasa. Biasanya di Brasil itu hanya nongol-nya 2 (batang), di sini bisa nongol 4 atau 5 (batang). Ini juga sesuatu yang luar biasa," tutur Presiden.

Selain ketahanan pangan, gula nantinya juga dapat berkontribusi untuk ketahanan energi melalui bioetanol.

"Larinya kalau gulanya tercapai nanti sebagian bisa dilarikan ke etanol yang kita mulai nanti dengan E5 dulu. E5 jalan, E10, E20, kaya kita main dulu B20 B 30 untuk sawit. Ini sama. Ini kita yang saya senang. kita sudah ketemu jurusnya, yang paling penting itu, ketemu jurusnya sehingga tinggal implementasi yang harus terus diawasi," kata Presiden.

Bioetanol merupakan salah satu bahan bakar alternatif berasal dari tumbuhan yang sudah melewati proses fermentasi, salah satu tumbuhan yang bisa dimanfaatkan adalah tebu. Berdasarkan hasil studi di Brazil, 1 ton tebu dapat menghasilkan setara 1,2 barrel minyak mentah.

Dalam dialog dengan para petani tebu, Presiden Jokowi menanyakan perkiraan hasil produksi tebu dengan menggunakan varietas baru tersebut.

Baca juga: NFA perluas lahan tebu perkuat industri gula nasional

Presiden Joko Widodo berdialog dengan petani tebu di kebun tebu Temu Giring, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Tengah pada Jumat (4/11/2022). (ANTARA/Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden)
Presiden Joko Widodo berdialog dengan petani tebu di kebun tebu Temu Giring, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Tengah pada Jumat (4/11/2022). (ANTARA/Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden)

"Bapak-bapak udah nyoba yang (varietas) baru ini? Kalau melihat yang sudah ada yang 26 hari itu bagaimana?" tanya Presiden Jokowi.

"Belum Pak, kalau yang seperti ini bisa 2.000 (kuintal) 1 hektare, atau 200 ton," jawab seorang petani tebu.

"Moga-moga ada hasilnya di sini, dari 1.500 (kuintal) bisa ke 2.000 (kuintal) itu gede banget," tutur Kepala Negara.

Turut hadir dalam acara tersebut adalah Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif, Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, dan Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati.

Baca juga: Indef: Perpres Percepatan Swasembada Gula potensial timbulkan monopoli