Pemerintah Swiss bantu peralatan laboratorium untuk BPVP Ambon

Pemerintah Swiss menyerahkan bantuan peralatan laboratorium Solar Fotovoltaik melalui proyek kerja sama Renewable Energy Skills Development (RESD) kepada Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Ambon, Maluku.

Bantuan dari proyek yang didanai oleh Sekretariat Negara Bidang Perekonomian (SECO) itu diserahkan pimpinan proyek RESD Martin Stottele kepada Kepala BPVP Ambon Asadiyah, di Ambon, Rabu.

"Bantuan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan penyelenggaraan program Pelatihan Teknisi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di BPVP Ambon," kata Kepala BPVP Ambon Asadiyah.

Baca juga: Integrasi infrastruktur gas, energi terbarukan percepat transisi energi

Paket peralatan laboratorium yang diserahkan terdiri dari solar PV portabel, peralatan panel solar untuk pemasangan di atap maupun yang dipasang di tiang serta prasarana pendukung lainnya.

Menurut Asadiyah pihaknya merasa terhormat menjadi salah satu dari empat BPVP di seluruh Indonesia yang dipilih untuk menjadi percontohan program pelatihan baru di bidang energi terbarukan.

"Kami mengapresiasi dan berterima kasih atas bantuan peralatan laboratorium PLTS dari Pemerintah Swiss dan dukungan teknis lainnya untuk membantu menyelenggarakan program pelatihan teknisi PLTS," katanya.

Baca juga: Pengamat: Jadikan krisis BBM momentum untuk migrasi ke EBT

Menurutnya sesuai dengan data Dewan Energi Nasional tahun 2021, Provinsi Maluku memiliki potensi energi surya sebesar 2.020 MW.

Seiring dengan dorongan pemerintah pusat terkait pemanfaatan PLTS yang lebih tinggi, industri PLTS akan semakin berkembang di kawasan timur, dan BPVP Ambon dapat menjadi penggerak dalam penyediaan tenaga kerja kompeten untuk operasi dan pemeliharaan PLTS di Provinsi Maluku dan sekitarnya.

Pimpinan Proyek RESD Martin Stottele menyatakan, hibah peralatan laboratorium solar PV untuk BPVP Ambon, merupakan wujud dukungan Pemerintah Swiss bagi Pemerintah Indonesia untuk melakukan program transisi energi dengan target bauran energi terbarukan mencapai 23 persen pada tahun 2025, khususnya dari sisi pengembangan sumber daya manusia.

Baca juga: Jabar menuju transportasi hemat dan ramah lingkungan

"Kami berharap peralatan laboratorium energi terbarukan di BPVP Ambon ini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran peserta yang mengikuti program pelatihan teknisi PLTS, sehingga mampu mencetak bibit unggul, berdaya saing dan memenuhi kebutuhan tenaga kompeten dan handal untuk industri energi terbarukan di Provinsi Maluku maupun di daerah lain," katanya.

Dia menambahkan, proyek yang dipimpinnya didanai oleh Pemerintah Swiss dan bekerja sama dengan empat Balai Pelatihan Vokasi di bawah Kementerian Ketenagakerjaan yaitu BPVP Ambon, BPVP Banda Aceh, BPVP Lombok Timur dan BPVP Ternate.

RESD adalah kerja sama pembangunan antara Pemerintah Indonesia melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Energi Sumber Daya Mineral (BPSDM ESDM) dan Pemerintah Swiss melalui State Secretariat for Economic Affairs SECO.

Hal ini bertujuan untuk menciptakan tenaga kerja yang kompeten di bidang perencanaan, desain, pembangunan dan pemasangan, inspeksi dan commissioning, supervisi, pengoperasian dan pemeliharaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Hibrid Surya Diesel.

Selain itu, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) melalui penciptaan program D4 spesialisasi energi terbarukan satu tahun (semester 7 dan 8) di 5 Politeknik percontohan di Indonesia, peluncuran program diklat energi terbarukan di lima lembaga pelatihan kerja, dan penguatan pertukaran informasi dan komunikasi di sektor energi terbarukan.

Proyek RESD berlangsung selama 5 tahun, sejak tahun 2020 hingga 2025 dan melibatkan BPSDM ESDM, Kementerian ESDM sebagai pemangku proyek dan juga kementerian/lembaga strategis lainnya termasuk Ditjen Vokasi, Kemendikbud Ristek, Kementerian Ketenagakerjaan, Badan Nasional Sertifikasi Profesi dan Bappenas.