Pemerintah Tambah 1.000 Konverter BBG untuk Mobil Dinas

Pemerintah melalui Kementerian ESDM akan kembali membagikan 1.000 konverter untuk kendaraan dinas. Pembagian ini melanjutkan langkah serupa sebanyak 500 perangkat yang dilaksanakan pada tahun 2011 lalu.

Hal ini pun tak lain dimaksudkan sebagai perkenalan dan memberikan contoh kepada masyarakat mengenai pemanfaatan bahan bakar gas atau BBG untuk alat transportasi.

"Pembagiannya tetapi mungkin baru tahun depan karena bulan November-Desember ini belum bisa dibagikan. Pembagian sendiri sudah dimulai dari anggaran tahun lalu," ungkap Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Legowo di Kementerian ESDM, Jakarta.

Konverter yang dimaksud akan menggunakan bahan bakar gas jenis LGV. Ia menambahkan bahwa penggunaan BBG untuk kendaraan dinas dirasakan sangat membantu karena biaya yang dikeluarkan relatif murah, seiring peraturan bahwa PNS dilarang menggunakan BBM subsidi.

Pemerintah sendiri sudah menyediakan 15.000 konverter BBG untuk kendaraan umum dan instansi pemerintahan. Namun, ada keluhan bahwa peruntukannya masih dinilai mengambang.

Perwakilan dari konsultan jenis BBG CNG menyebut bahwa konverter BBG yang disediakan tidak secara jelas disebutkan untuk tipe mesin berbahan bakar bensin ataukah diesel solar.

"Kapasitas mesin berbeda-beda. Ada 1.300 cc, 1.400 cc, 1.500 cc, dan 1.600 cc. Lantas apakah cocok untuk besin dan diesel," ungkap Direktur PT Setindo Raya Erwin Wijaya di Kementerian ESDM, Jakarta.

Atas tolok ukur tersebut, dia mengimbau perlunya konverter yang sekiranya bisa digunakan untuk mengakomodasi semua faktor. Ia bersama timnya pun mengaku sedang mengembangkannya.

"Jika peruntukannya tidak tepat, bisa jadi mobil bermasalah gara-gara pakai konverter," ungkapnya.

Ia juga memaparkan bahwa komposisi gas berbeda-beda, bisa mengandung metan 70 persen, bisa pula 95 persen. Dengan demikian walaupun gas alam cenderung murah dan tidak perlu banyak proses, perlu diperhatikan bahwa komposisinya tidaklah sama.(kpl/why/bun)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.