Pemerintah Yakin Ekonomi Tumbuh Sebesar Ini pada 2021 dan 2022

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah optimistis dapat mencapai angka pertumbuhan ekonomi di kisaran 3,7 hingga 4,5 persen di tahun 2021 dan di kisaran 5 hingga 5,5 persen di tahun 2022.

Untuk ini, pemerintah menyiapkan strategi kebijakan ekonomi yang tepat untuk memulihkan ekonomi dengan menciptakan lapangan kerja dan mempersiapkan pekerja Indonesia untuk bertransformasi secara digital.

Dengan meningkatkan alokasi anggaran PEN untuk tahun 2021 melalui refocusing anggaran. Saat ini, anggaran PEN telah mencapai Rp 744,77 Triliun atau USD 51,3 Miliar.

”Peranan digitalisasi dalam industri manufaktur utama merupakan implementasi dari revolusi industri 4.0 yang akan meningkatkan ekspor, tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi diatas 7 persen,” jelas Airlangga Hartarto.

Ini dia sampaikan saat bertemu dengan perwakilan dari US – ASEAN Business Council yang mewakili 39 korporasi besar berskala global yang berbasis di Indonesia, Singapura, Hongkong dan Amerika Serikat secara virtual, Selasa 24 Agustus 2021.

Pertemuan yang dilakukan berfokus pada potensi kerjasama yang dapat dilakukan untuk mempercepat Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN) dan dibuka pertama kali oleh President dan CEO US-ASEAN Business Council Ted Osius.

Pembukaan acara juga dilakukan Osius untuk memperkenalkan delegasinya, termasuk Batara Sianturi, Vice Chairman dari US – ASEAN Business Council.

Adapun Airlangga menegaskan komitmen Pemerintah Indonesia untuk berkolaborasi dengan pelaku bisnis agar pemulihan ekonomi nasional dapat dipercepat, sejalan dengan pemulihan ekonomi global.

“Seperti kita ketahui bersama, pertumbuhan ekonomi global sudah on track. Tiongkok dan Amerika Serikat bahkan mencatatkan pertumbuhan ekonomi tinggi di angka 7,9 persen dan 12,2 persen year on year (YoY),” ujar Airlangga.

Pemerintah optimistis bahwa pemulihan ekonomi akan segera terwujud jika kolaborasi global terus ditingkatkan.

Pertumbuhan yang tercatat naik 7,7 persen (YoY) ,mencapai nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa negara di kawasan lain.

Namun, pemerintah mewaspadai angka tersebut relatif lebih rendah pada kuartal ketiga tahun ini karena adanya lonjakan kasus positif COVID-19 akibat varian delta. Langkah yang diambil adalah dengan memberlakukan PPKM dengan lebih ketat.

Upaya tersebut ternyata mampu mengurangi jumlah kasus aktif dan tingkat dari penularan virus COVID-19. Tak hanya itu, pemerintah kembali meningkatkan program vaksinasi dalam lingkup nasional.

Sudah sekitar 90,68 juta dosis telah disuntikkan ke masyarakat Indonesia, di antaranya 58 juta sudah menerima dosis pertama dan 32,23 juta lainnya telah menerima dosis kedua.

“Kolabroasi dengan dunia usaha sangat penting untuk memastikan ketersediaan vaksin tetap terjaga. Pelaksanaan program vaksinasi untuk daerah yang remote tetap dilakukan agar segera tercipta kekebalan komunal (herd immunity),” jelas Airlangga, Rabu (25/08/2021).

Efektivitas pengendalian laju penularan Covid-19 merupakan kunci, agar pemulihan ekonomi berjalan optimal dan target pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini dan tahun depan dapat tercapai.

Dorong UMKM Indonesia

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberi keterangan pers usai Rapat Terbatas Penanganan Pandemi COVID-19, Senin (24/5/2021) di Istana Kepresidenan Jakarta. (Humas Sekretariat Kabinet/Rahmat)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberi keterangan pers usai Rapat Terbatas Penanganan Pandemi COVID-19, Senin (24/5/2021) di Istana Kepresidenan Jakarta. (Humas Sekretariat Kabinet/Rahmat)

Pemerintah juga mendorong pengembangan UMKM agar pemulihan ekonomi dapat segera terwujud. Selama pandemi, 40 persen dari pelaku usaha UMKM telah menggunakan jaringan marketplace atau memasarkan produknya secara online.

Ini sejalan dengan program pemerintah untuk mendorong transformasi digital untuk mempercepat inklusi keuangan bagi pelaku usaha UMKM.

Data Bank Indonesia menunjukkan, proyeksi nilai transaksi melalui e-commerce bahkan diperkirakan melonjak hingga 39,1 persen menjadi Rp 390 Triliun di tahun ini.

Pelaku usaha yang tergabung dalam US ABC menyambut masalah ini dengan mendorong kolaborasi dalam berbagai bidang, seperti misalnya di bidang kesehatan melalui program vaksinasi, obat dan farmasi dan imunisasi, dan juga di bidang digital payment untuk e-commerce yang berhubungan dengan kegiatan UMKM, dukungan kepada data center, aliran data, perasuransian dan peta jalan Indonesia.

Pemerintah juga menyiapkan fasilitas infrastruktur pendukung untuk mempercepat transformasi digital melalui perluasan wilayah layanan 4G, pembangunan sejumlah data center di wilayah dan memulai proses implementasi teknologi 5G tahun depan.

“Pemerintah Indonesia sangat serius dalam mempersiapkan talenta digital yang sangat dibutuhkan dalam persaingan bisnis di masa depan. Kami memperkirakan dibutuhkan sekitar 9 juta talenta digital dalam waktu 15 tahun mendatang,” ungkap Airlangga.

Berdasarkan Compound Annual Growth Rate (CAGR), pasar data center Indonesia mencapai 23 persen angka tertinggi untuk wilayah Asia Tenggara.

Potensi ekonomi digital Indonesia bahkan diprediksi dapat meningkat 283 persen dari USD 44 Miliar di tahun 2020 menjadi USD 124 Miliar di tahun 2025.

Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No 68 Tahun 2021 mengenai Kawasan Ekonomi Khusus Nongsa Digital Park di Pulau Batam yang diperuntukan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi digital Indonesia.

Nongsa Digital Park diperkirakan akan membutuhkan investasi sebesar Rp 16 Triliun atau USD 1,1 Miliar dan dapat menciptakan lapangan kerja untuk 16.500 orang.

Pemerintah juga memberikan sejumlah insentif bagi perusahaan yang berinvestasi di Kawasan Ekonomi Khusus, seperti insentif fiskal.

Pemerintah juga membuka kesempatan kepada pelaku usaha agar terlibat dalam pengembangan koperasi agrobisnis melalui pengembangan food estate atau lahan pangan baik untuk komoditas padi atau lainnya, dan juga pengembangan energi terbarukan untuk green, blue, circular economy.

“Pandemi COVID-19 mengajarkan betapa pentingnya pengembangan sektor kesehatan, maka Pemerintah mendorong pelaku usaha untuk terlibat dalam pembangunan manufaktur vaksin yang diproduksi di Indonesia mengingat populasi yang besar dan pengembangan kolaborasi lain di bidang teknologi kesehatan, sebagai upaya antisipasi untuk ketahanan kesehatan.” tutup Airlangga

Reporter: Caroline Saskia

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel