Pemilik hewan di Turki terbebani inflasi dan naiknya biaya hidup

Inflasi yang tinggi selama beberapa dekade dan meningkatnya biaya hidup di Turki telah membebani para pemilik hewan peliharaan dan tempat penampungan hewan dalam segala hal, termasuk kebutuhan pokok bagi sobat berbulu mereka, semakin mahal di tengah daya beli rumah tangga yang menurun tajam.

"Kami kesulitan karena lonjakan harga, harga makanan hewan meroket karena sebagian besar makanan hewan peliharaan premium diimpor, dan karena nilai lira menurun terhadap euro dan dolar, harga pun melonjak," kata Ece Onderoglu, seorang pelatih anjing yang menghadiri PETZOO, ajang pameran hewan peliharaan terbesar di Turki, yang diselenggarakan pada akhir pekan di Ankara, ibu kota Turki, dilansir Xinhua, Selasa.

Turki sedang mengalami penurunan ekonomi yang ditandai dengan inflasi di atas 80 persen, level tertinggi sejak 1998, dan depresiasi mata uang nasional lira yang terus berlanjut, yang telah kehilangan lebih dari 22 persen nilainya terhadap dolar AS selama delapan bulan terakhir.

Turki telah lama memiliki budaya masyarakat yang peduli terhadap hewan, terutama kucing dan anjing jalanan. Namun, masalah finansial di negara tersebut kini membuat masyarakat semakin sulit untuk mempertahankan budaya itu.

"Biaya kami meningkat: listrik, gas alam, transportasi, dan manufaktur. Dan semua biaya ini tercermin dalam produk kami untuk konsumen yang sangat tidak puas dengan harga-harga tersebut," kata Kerem Kececi, kepala Bosphorus, perusahaan yang memproduksi makanan anjing dan kucing.

"Sumbangan makanan yang kami terima dari masyarakat jauh lebih sedikit sejak awal tahun, dan semakin sulit untuk merawat hewan peliharaan kami," kata Volkan Koc, salah satu pendiri desa anjing di dekat Ankara, kepada Xinhua.

"Terkadang dalam sehari, peliharaan kami hanya makan satu kali atau tidak sama sekali. Kami bergantung sepenuhnya pada sumbangan dan di saat krisis, tempat penampungan kami bukan sebuah prioritas," keluh Koc.