Pemilik Mobil Televisi Rentan Terkena Serangan Jantung

PARIS (AFP/ANTARA) - Pemilik mobil yang dilengkapi televisi 27 persen lebih tinggi kemungkinan terkena serangan jantung daripada pemilik mobil yang tidak dilengkapi TV, menurut sebuah penelitian global pada latihan fisik dan penyakit jantung yang dipublikasikan Rabu lalu.


Lebih luas lagi, studi -- mencakup lebih dari 29.000 orang di 52 negara -- menunjukkan bahwa bekerja sampai berkeringat dapat menjadi pencegahan terbaik bagi gagal jantung.


Sampai sekarang, hanya sedikit penelitian yang difokuskan pada bagaimana aktivitas fisik di tempat kerja dan bermain mempengaruhi serangan jantung, bahkan lebih sedikit lagi penelitian yang menomparasi data-data tersebut di seluruh negara di berbagai tingkat pendapatan.


"Studi ini menunjukkan bahwa aktivitas ringan sampai aktivitas berat di tempat kerja, dan setiap aktivitas selama waktu luang, dapat mengurangi resiko serangan jantung," kata ketua peneliti Claes Held, seorang profesor di Uppsala University di Swedia.


Hal ini juga "memperluas temuan sebelumnya mengenai efek perlindungan aktivitas fisik di waktu luang ... untuk negara berpenghasilan rendah dan menengah."


Data tersebut dikumpulkan dari tahun 1999 hingga tahun 2003 untuk studi Interheart.


Mereka membandingkan satu kelompok lebih dari 10.000 pria paruh baya dan wanita yang mengalami serangan jantung tunggal dengan kelompok lebih besar yang tidak memiliki riwayat penyakit kardiovaskular.


Aktivitas fisik di tempat kerja dan selama waktu luang dibagi menjadi empat tingkat: pekerjaan berat yang ekstrim, dan, di sisi lain, melakukan pekerjaan fisik yang berat saat bekerja atau jantung berdebar karena latihan aerobik, dan saat bermain.


Tak mengherankan, studi, yang dipublikasikan European Heart Journal, menemukan bahwa olahraga itu baik bagi jantung.


Namun, efektivitas aktivitas fisik bervariasi tergantung pada pengaturan dan intensitas, menurut penelitian tersebut.


Setiap jenis aktivitas selama waktu luang terbukti positif, dengan resiko serangan jantung -- dibandingkan yang tidak beraktivitas -- turun 13 persen untuk aktivitas ringan dan 24 persen untuk olahraga ringan atau berat.


Keuntungan yang sama dapat dirasakan untuk aktivitas fisik pada pekerjaan. Tanpa diduga, pekerjaan fisik yang berat tidak mengurangi resiko sama sekali.


Juga diselidiki apakah memiliki mobil, motor, stereo, TV, komputer, tanah atau ternak mempengaruhi kesehatan.


"Orang yang memiliki mobil dan TV" -- 25 persen dari responden di negara-negara miskin dan menengah, dan dua-pertiga di negara kaya -- "memiliki resiko lebih tinggi terkena myocardial infarction," istilah medis untuk serangan jantung, para peneliti menyimpulkan.


Diabetes dan tekanan darah tinggi lebih umum, namun lebih banyak ditemukan di negara berkembang, seperti ditemukan para peneliti.


Apa kesimpulannya? Satu set angka penelitian untuk penjelasan yang masuk akal.


Memiliki barang-barang yang tersebut membuat resiko meningkat menjadi empat kali lipat di negara miskin dan menengah -- dan dua kali di negara kaya -- karena orang akan berdiam diri, terutama di tenpat kerja.


Implikasinya, dengan kata lain, sofa di depan TV membuat orang bermalas-malasan, dan motor membuat orang malas berjalan.


"Jika kita ingin sehat dan panjang umur, kita harus menghentikan kebiasaan malas bergerak," Emiline Van Craenenbroeck dan Viviane Conraads, keduanya dari Antwerp University Hospital Belgium, berkomentar di jurnal yang sama.


"Tetap sehat secara fisik sepanjang hidup merupakan salah satu cara termudah, termurah dan paling efektif menghindari jantung koroner."


Secara umum, porsi orang-orang yang tidak beraktivitas di waktu luang meningkat hampir dua kali lebih tinggi -- hampir 70 persen -- terutama di negara berkembang.


"Beban utama penyakit jantung sekarang terletak di negara berkembang, informasi ini harus menginspirasi perubahan dalam strategi kesehatan di daerah berpenghasilan rendah," kata Van Craenenbroeck dan Conraads.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.