Pemilu AS 2020: Ini Pendapat Ahli Soal Masa Depan Hubungan dengan Indonesia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah negara bagian masih dalam proses penghitungan suara pemilu Amerika Serikat 2020.

Dr. Teuku Rezasyah, pengajar program studi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran menyampaikan pendapatnya tentang apa yang perlu dilakukan Indonesia dalam menanggapi momen bersejarah itu.

Hal itu pun termasuk saat nantinya pemenang kursi kepresidenan di Gedung Putih diraih oleh salah satu kandidat.

Teuku Rezasyah menuturkan bahwa apa yang berlangsung di AS saat ini (pemilihan presiden) akan berdampak ke seluruh dunia, juga Indonesia.

"Pada prinsipnya saya perhatikan antara Partai Demokrat dan Republik AS itu sangat realistis, dalam berhubungan dengan negara lain termasuk Indonesia," ujar Teuku Rezasyah, dalam acara webinar yang digelar oleh Radio Smart FM bertajuk "For Biden, For Trump?" pada Sabtu (7/11/2020).

Ia juga memaparkan bahwa hubungan Indonesia dengan AS sudah memiliki fondasi sejak lama.

Hal itu ditunjukkan dari segi ekonomi, politik, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Namun, selama puluhan tahun hubungan kedua negara dinilai selalu naik turun, contohnya pada tahun 1958 ketika AS mengirim pilot Airland Hope ke Sumatera yang mengganggu fasilitas pelabuhan dan fasilitas industri Tanah Air.

Teuku Rezasyah juga menyebutkan pada awal tahun 1960-an, AS mendukung Indonesia karena kemampuannya menggunakan politik luar negeri bebas-aktif dan realis.

Adapun dukungan lainnya yang diberikan AS kepada Indonesia ketika Soeharto menjabat sebagai presiden di tahun 1967.

AS pun turut senang ketika Indonesia membentuk ASEAN, menurut Teuku Rezasyah.

Tetapi ia juga menilai, Indonesia mengalami kerugian akibat hubungan yang naik-turun tersebut.

"Sehingga Indonesia harus aktif dan kreatif, jadi kita harus memainkan berbagai hukum yang ada sekarang yang disebut strategic partnership," kata Teuku Rezasyah.

Apresiasi AS pada Posisi Indonesia di ASEAN

Presiden AS Donald Trump dan Presiden RI, Joko Widodo berbincang saat bertemu di sela-sela KTT G20 di Hamburg, Jerman, (8/7). Sejumlah pemimpin negara berkumpul dalam KTT G20 pada 7-8 Juli 2017. . (AP Photo/Evan Vucci)
Presiden AS Donald Trump dan Presiden RI, Joko Widodo berbincang saat bertemu di sela-sela KTT G20 di Hamburg, Jerman, (8/7). Sejumlah pemimpin negara berkumpul dalam KTT G20 pada 7-8 Juli 2017. . (AP Photo/Evan Vucci)

Bagaimanapun juga, Teuku Rezasyah menggarisbawahi bahwa AS itu juga sangat menghargai keberadaan Indonesia di ASEAN.

"Karena Indonesia yang stabil, berarti ASEAN yang stabil, itu juga merupakan daya dukung bagi kepentingan nasional Amerika Serikat," imbuhnya.

"Jadi kemampuan kita menjaga keutuhan wilayah darat, laut dan udara kemudian selat-selat strategis itu akan sangat menguntungkan AS," tambah Teuku Rezasyah.

Sementara itu, Teuku Rezasyah berpendapat bahwa "apabila Donald Trump yang menang, Asia-Pasifik akan diawasi 24 jam, sehingga terdapat nilai tambah bagi Indonesia untuk berkonsentrasi pada urusan dalam negeri". Namun, menurutnya, Trump seperti tidak percaya pada tokoh-tokoh demokrasi dalam negeri yang bekerja keras untuk menghitung suara pemilu.

"Seperti dalam urusan pemilu ini, dimana Trump meminta Mahkamah Agung untuk mengambil alih. Hal tersebut menunjukkan adanya masalah dalam demokrasi AS," sebut Teuku Rezasyah.

Di sisi lain, apabila Joe Biden yang menang, ia dinilai memerlukan waktu untuk belajar lagi.

Teuku Rezasyah mengatakan, kemenangan Biden akan berdampak pada China, multilateralisme, dan berbagai perjanjian internasional.

"Hal ini menyebabkan dalam satu hingga dua bulan ini, Biden akan tersita waktunya untuk pembenahan di dalam negeri terutama dalam pencarian elite-elite yang tepat," katanya.

Peta Hasil Pemilu AS 2020

Saksikan Video Berikut Ini: