Pemilu AS, Manuver Terakhir Partai Republik untuk Jegal Joe Biden

Daurina Lestari, BBC Indonesia
·Bacaan 4 menit
ted cruz
Mr Cruz says an audit would improve "faith in the electoral process"

Sekelompok senator di AS berkata mereka akan menolak meresmikan kemenangan Joe Biden dalam pemilihan presiden kecuali dibentuk sebuah komisi untuk menyelidiki dugaan kecurangan pemilu.

Kesebelas senator dan senator-terpilih, dipimpin oleh Ted Cruz, menginginkan penundaan selama 10 hari untuk mengaudit tuduhan tak berdasar itu.

Manuver ini diperkirakan tidak akan sukses karena sebagian besar senator hampir dipastikan akan mendukung Biden pada pemungutan suara tanggal 6 Januari.

Presiden Trump masih menolak mengakui kekalahan, berulang-ulang melontarkan tuduhan kecurangan tanpa memberikan bukti.

Ikhtiar hukumnya untuk membatalkan hasil pemilu telah ditolak oleh pengadilan.

Bulan lalu, Electoral College AS - yang mengonfirmasi hasil pemilihan presiden November lalu dengan memberi poin bagi setiap negara bagian yang dimenangkan oleh setiap kandidat - mengukuhkan kemenangan Biden atas Trump, dengan perolehan suara 306-232.

Perolehan suara ini perlu ditegaskan oleh Kongres pada 6 Januari. Hari Inaugurasi, ketika presiden dan wakil presiden baru dari partai Demokrat dilantik, adalah tanggal 20 Januari.

Apa yang diinginkan para sekutu Trump?

Dalam sebuah pernyataan, 11 senator yang dipimpin oleh senator Texas Ted Cruz mengatakan bahwa dalam pemilihan presiden pada November "terdapat begitu banyak tuduhan mengenai kecurangan pemilu, pelanggaran dan kelemahan dalam penegakan hukum pemilu, dan berbagai masalah lainnya".

Mengutip preseden dari tahun 1877 - ketika komite bipartisan dibentuk untuk menyelidiki setelah kedua partai mengklaim kemenangan di tiga negara bagian - mereka mendesak Kongres supaya membentuk komisi untuk melakukan "audit darurat selama 10 hari terhadap hasil pemilu di negara-negara bagian yang diperselisihkan".

"Setelah selesai, tiap-tiap negara bagian mengevaluasi temuan komisi dan dapat mengadakan sesi legislatif istimewa untuk meresmikan perubahan dalam suara mereka, jika diperlukan," kata para senator.

Bagaimanapun, mereka berkata upaya mereka kemungkinan besar tidak akan sukses. "Kami tidak naif. Kami sepenuhnya memperkirakan sebagian besar atau semua Demokrat, dan barangkali lebih dari segelintir Republik, akan menolak," ungkap mereka.

Ikhtiar ini terpisah dari yang dilakukan Senator Missouri Josh Hawley, yang juga berkata ia akan menolak hasil Electoral College atas dasar keraguan akan integritas pemilu.

Sekelompok politikus Republik di majelis rendah Kongres, Dewan Perwakilan Rakyat, juga berencana menentang hasil pemilu.

Analisis reporter BBC di Amerika Utara, Anthony Zurcher

Dengan hampir selusin senator Republik kini berencana untuk menantang hasil pemilu di Kongres, kini jelas sudah - jika sebelumnya masih diragukan - bahwa anggota inti partai terus mendukung ikhtiar Donald Trump untuk membatalkan kekalahannya di Pilpres.

Manuver ini akan sia-sia, mengingat mayoritas Demokrat di DPR, namun tujuan bagi para politisi ini bukanlah secara ajaib memutar balik takdir sang presiden, melainkan menarik simpati dari basis pendukung loyal Trump.

Mereka bertaruh bahwa jalan menuju sukses di Partai Republik akan terus melalui Trump serta para pendukung setianya. Dukungan mereka sangatlah berharga bagi senator-senator dengan ambisi menjadi presiden, seperti Ted Cruz dari Texas atau Josh Hawley dari Missouri, atau siapapun yang khawatir akan lawan dari politisi pro-Trump dalam pemilihan awal.

Ini bukan pertama kalinya anggota Kongres yang kecewa dengan hasil pemilihan presiden menyatakan keberatan saat penghitungan suara dari Electoral College, tahapan yang lebih bersifat seremonial saja. Namun ini akan menjadi aksi protes terbesar dalam hampir satu setengah abad.

Ini pertanda bahwa dendam partisan di AS, yang diperburuk oleh perjuangan Trump untuk mempertahankan kursi kepresidenan, belum akan pudar dalam waktu dekat.

Apa yang akan terjadi pada 6 Januari?

Keberatan terhadap penghitungan suara Electoral College yang didukung oleh para anggota DPR dan seorang anggota Senat perlu dipertimbangkan oleh para anggota parlemen dalam debat selama dua jam, yang diikuti pemungutan suara.

Namun supaya hasil penghitungan suara elektoral bisa ditolak, mayoritas di kedua majelis perlu mendukung keberatan tersebut. Skenario ini dipandang hampir mustahil karena partai Demokrat menguasai mayoritas kursi di DPR dan beberapa anggota Republik di Senat telah mengatakan mereka tidak akan menentang hasil tersebut.

Beberapa politikus top partai Republik telah mengatakan bahwa peran Senat dalam meresmikan hasil pemilihan lebih bersifat seremonial dan seharusnya tidak menjadi kesempatan untuk memperpanjang perdebatan mengenai hasilnya.

Pemimpin mayoritas Senat Mitch McConnell telah mengakui kemenangan Biden dan meminta anggota partai Republik lainnya agar tidak menyatakan keberatan.

Keputusan sejumlah politikus Republik untuk melawan pimpinan mereka mengindikasikan perpecahan yang semakin besar dalam partai itu, kata koresponden BBC di Washington Lebo Diseko.

Kubu Biden belum menanggapi manuver terbaru untuk menentang hasil pemilu ini. Namun juru bicara Biden, Jen Psaki menyebut upaya Senator Hawley "hanya main-main".

"Rakyat Amerika telah bersuara keras dalam pemilihan ini dan 81 juta orang memilih Joe Biden dan Kamala Harris," ujarnya.

"Kongres akan meresmikan hasil pemilu seperti yang biasa mereka lakukan setiap empat tahun."