Pemilu Palestina Dinilai Jadi Momentum Rekonsiliasi Hamas-Fatah

Hardani Triyoga, Eduward Ambarita
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pemilu Palestina dinilai jadi momentum rekonsiliasi antara Hamas-Fatah. Keputusan Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk menggelar pemilu untuk pertama kalinya sejak 2006 atau sudah 15 tahun diapresiasi.

Demikian disampaikan Staf Khusus Presiden Bidang Isu Strategis, Diaz Hendropriyono. Menurut dia, pemilu kali ini jadi momentum yang tepat menyangkut konflik internal Palestina.

“Saya optimis pemilu ini akan menjadi momentum rekonsiliasi. Kalau Hamas dan Fatah kompak, perjuangan diplomasi Palestina akan lebih efektif karena legitimasinya jelas,” kata Diaz kepada wartawan, Jumat 22 Januari 2021.

Diaz mengatakan, konflik internal berkepanjangan di negara itu sudah pasti menyulitkan Palestina memperjuangkan kemerdekaan. Keputusan mengadakan pemilu adalah keputusan yang tepat, sekaligus menunjukkan kenegarawanan seorang Mahmoud Abbas.

Terkait Abbas yang maju sebagai petahana dari kelompok Fatah, disebut juga keputusan untuk mewujudkan demokrasi di Palestina.

“Keputusan mengadakan pemilu ini bukti bahwa selain Presiden Mahmoud Abbas adalah negarawan sejati, juga menunjukkan komitmen Abbas terhadap demokrasi dan perdamaian di Palestina. Sikap ini harus 100 persen didukung," tambah Diaz.

Diaz optimis, pemerintah Indonesia pasti ikut memfasilitasi proses rekonsiliasi tersebut. Apalagi, sejak lama Presiden Jokowi dalam berbagai forum internasional menyatakan dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina.

“Hubungan Indonesia dan Palestina sudah seperti saudara, kita pasti bantu apabila diminta. Ketika kita musibah kecelakaan pesawat Sriwijaya, saudara kita di Palestina turut menggelar Sholat Ghoib bagi korban. Ini menunjukkan kedekatan kita," tutur Diaz.

“Timing-nya pas banget setelah Idul Fitri 1442 H. Suasana Lebaran akan ikut mensukseskan pemilu Palestina. Semoga tahun 2021 ini akan menjadi tahun emas bersejarah bagi hubungan Indonesia dan Palestina,” ujar Diaz.

Konflik Palestina dengan Isreal memang menyeret dua kelompok yang selama ini berseteru yakni Fatah dan Hamas. Ada harapan dua kelompok itu bersatu kompak melawan kezaliman Israel.

Dikutip dari Aljazeera, selama lebih dari satu dekade, dua kelompok ini memang tak akur. Fatah memiliki jaringan politiknya dalam otoritas pemerintah Palestina di Ramallah. Sementara, Hamas punya kuasa di Jalur Gaza.

"Kami siap memberlakukan semua upaya yang diperlukan demi persatuan nasional dalam upaya menentang aneksasi," kata pejabat senior Fatah Jibril Rajub di Ramallah