Pemilu Venezuela di Tengah Krisis Ekonomi, Ngeri Tanpa Oposisi

Ezra Sihite, BBC Indonesia
·Bacaan 4 menit

"Kami datang ke sini untuk menunjukkan wajah kami, untuk mengatakan kebenaran, berjalan dengan Anda sehingga Anda dapat memberi tahu masalah Anda, dan kami dapat menyelesaikannya," teriak kandidat Nicolas Maduro Guerra kepada sekitar 500 orang di pantai Karibia di La Guaira.

"Saya tidak datang ke sini untuk menjanjikan kastil dan rumah mewah, tapi saya berjanji kita akan berhasil melewati ini."

Tapi janji yang datang dari laki-laki yang biasa dipanggil "Nicolasito" itu, mungkin sulit dipercaya beberapa orang.

Nicolasito adalah putra presiden dan di bawah pemerintahan Nicolás Maduro, ekonomi Venezuela, yang dulu kaya minyak, runtuh.

Setiap hari, jutaan orang di Venezuela berjuang untuk mendapatkan makanan yang cukup. Mereka menghadapi inflasi tahunan di atas 5.000?n sekitar lima juta orang telah meninggalkan negara itu untuk mencari pekerjaan dan kehidupan yang lebih stabil.

Pandemi memperparah masalah di negara itu.

Terlepas dari hubungan keluarganya, Nicolasito kemungkinan akan menang.

Dia akan mendapatkan satu dari 277 kursi di Majelis Nasional pada hari Minggu. Pertarungan akan menjadi lebih mudah karena oposisi memboikot pemungutan suara.

"Merupakan tugas semua rakyat Venezuela untuk menggunakan hak pilihnya," kata pendukungnya, Darwin Quintero.

"Kami harus mengatasi masalah-masalah ini dan kami berharap orang yang kami pilih dapat menyelesaikannya. Itulah mengapa kami mengadakan pemilihan umum."

Namun, banyak di antara kerumunan itu yang merasa terpaksa harus memilih.

"Saya harus memilih karena saya adalah pegawai pemerintah," kata seorang perempuan. Dia tidak ingin namanya dicantumkan.

A campaign rally in Venezuela
A campaign rally in Venezuela

"Saya tidak ingin memilih karena saya tidak senang dengan apa yang terjadi. Saya punya dua pekerjaan, empat anak dan saya hampir mati kelaparan. Saya bekerja untuk makan. "

Dan bagaimana dengan oposisi?

"Tidak ada oposisi di sini, hanya ada Tuhan," katanya.

Kecewa dengan politik

Hampir dua tahun, lalu Venezuela berharap ada perubahan.

Pada Januari 2019, Juan Guaido, sebagai ketua Majelis Nasional, yang dipimpin pihak oposisi, mengatakan bahwa dia akan menjadi orang yang akan mengakhiri pemerintahan Presiden Maduro.

Ia berjanji akan memimpin negara itu menuju pemilihan yang bebas dan adil.

Dia merujuk konstitusi yang memungkinkan dia untuk mengambil alih kekuasaan, membuat banyak negara dengan cepat mendukungnya sebagai pemimpin sah Venezuela.

Puluhan ribu orang turun ke jalan untuk mendukungnya. Survei menunjukkan lebih dari 60% responden sepakat dengannya.

Namun sejak itu, popularitas Juan Guaido anjlok hingga sekitar 25%. Presiden Maduro masih berada di Istana Miraflores, dan negaranya itu tak jalan ke mana-mana, seperti menghadapi jalan buntu.

"Kami semua berharap transisi dapat berlangsung lebih cepat," kata Guaido, membela dirinya dari kritik yang mengatakan dia sudah gagal memperbaiki keadaan.

"Ketika Anda tidak punya air, ketika Anda harus mengantre tiga hari untuk bensin ... ketika keluarga Anda jauh dari Anda ... bertahan hidup adalah pekerjaan penuh waktu."

Tapi dia bersikeras dia melakukan apa yang dia bisa.

Alih-alih berpartisipasi dalam pemungutan suara hari Minggu, oposisi telah memutuskan untuk mengadakan "consulta popular" antara 7 dan 12 Desember.

Ini adalah referendum, dengan pertanyaan pada warga tentang masa depan politik negara.

Tetapi hanya sedikit yang tampak antusias, banyak yang tidak benar-benar tahu mengenai hal itu. Para ahli juga mempertanyakan keabsahannya.

"Ini mungkin situasi terburuk bagi para pemimpin dan partai politik oposisi sejak masa Hugo Chavez," kata sejarawan Margarita López Maya, merujuk pada pendahulu Nicolás Maduro dan orang yang memulai `revolusi Bolivarian` sayap kiri di Venezuela.

"Kita menyelesaikan siklus Guaido."

Jadi apa selanjutnya? Mulai tanggal 5 Januari, ketika Majelis Nasional yang baru dilantik, Juan Guaido tidak lagi menjadi pejabat terpilih.

Juan Guaidó meets supporters in Caracas
Popularitas Juan Guaidó semakin anjlok.

Namun Guaido bersikeras bahwa komunitas internasional terus mendukungnya. Namun, urusan komunitas internasional itulah yang dikhawatirkan beberapa analis.

"Anda tidak menyelesaikan masalah politik internal dengan politik internasional, kecuali jika Anda berbicara tentang invasi," kata Luis Vicente Leon, Presiden Datanalisis, perusahaan survei di Caracas.

"Masalah utamanya adalah pertarungan internal dan kini hal itu terlihat sangat lemah, sehingga oposisi akhirnya menjadi sangat bergantung pada politik internasional."

Tidak ke Mana-mana

Pada tahun baru, Guaido berisiko dipenjara oleh pemerintahan Maduro jika dia terus memimpin pemerintahan paralel. Tapi dia bilang dia tidak akan ke mana-mana.

"Saya akan tinggal di Caracas untuk menentang rezim," katanya. "Kami tahu tujuan utama Maduro dan kediktatoran adalah untuk memusnahkan alternatif demokratis."

Lalu, siapa yang akan melanjutkannya?

"Saya dipilih oleh rakyat, lalu oleh parlemen," jelasnya. "Yang penting adalah tujuannya, bukan siapa yang duduk di kursi kekuasaan. Ini bukan hanya tentang satu orang, ini sebuah gerakan."

LÃpez Maya ragu.

Dia mengatakan oposisi dan pemerintah sangat jauh, sebagian besar rakyat Venezuela tidak ingin berurusan dengan kedua belah pihak saat ini.

"Mereka harus memahami bahwa mereka harus meninggalkan wacana yang terpolarisasi ini karena ini adalah zero-sum game. Mereka telah kalah sepanjang persaingan ini."

Laporan tambahan oleh Vanessa Silva