Pemimpin ASEAN Sepakat Junta Militer Myanmar Harus Hentikan Kekerasan

Agus Rahmat, Eduward Ambarita
·Bacaan 1 menit

VIVA – Para pemimpin negara-negara ASEAN sepakat, agar Junta Militer Myanmar menghentikan kekerasan yang hingga kini terus menelan korban jiwa. Konsensus itu disepakati hasil ASEAN Leaders Meeting di Jakarta pada Sabtu hari ini 24 April 2021.

Presiden RI Joko Widodo mengatakan, pertemuan ini memang secara khusus membahas krisis politik yang terjadi di Myanmar.

Sejak kudeta militer berlangsung, ratusan demonstran pro demokrasi meninggal dunia. Begitu juga akses internet serta surat kabar dihentikan, sehingga akses informasi terputus.

Baca juga: KPK Akan Periksa Azis Syamsuddin, Firli Bahuri: Secepatnya

"Perkembangan situasi di Myanmar sesuatu yang tidak dapat diterima dan tidak boleh terus berlangsung. Kekerasan harus dihentikan, dan demokrasi dan stabilitas dan perdamaian di Myanmar harus segera dikembalikan," kata Presiden Jokowi dalam ketarangan persnya usai pertemuan, Sabtu malam, 24 April 2021.

Jokowi menceritakan awal mula ASEAN Leaders Meeting ini digelar. Yakni ketika dirinya berkomunikasi dengan Sultan Brunei Darussalam, Sultan Hassanal Bolkiah, yang juga selaku Ketua ASEAN. Komunikasi berlangsung, Maret lalu. Bagi Jokowi, kepentingan rakyat Myanmar adalah prioritas.

"Dalam pertemuan ini saya juga menyampaikan pentingnya pemimpin militer Myanmar untuk memberikan komitmen yaitu permintaan komitmen pertama penghentian penggunaan kekerasan dari militer Myanmar. Di saat yang sama semua pihak harus menahan diri sehingga ketegangan dapat diredakan," jelasnya.

Jokowi juga mendorong dialog yang terbuka yang melibatkan utusan ASEAN. Tahanan politik harus segera dilepaskan. Kepala Negara menegaskan, Indonesia sangat berkomitmen dan berkepentingan mengawal poin-poin usai pertemuan disepakati.

"Kita bersyukur apa yang disampaikan Indonesia sejalan dengan yang disampaikan oleh para pemimpin ASEAN, sehingga dapat dikatakan para pemimpin ASEAN telah mencapai konsensus," kata mantan Gubernur DKI itu.

Situasi di Myanmar mulai tidak terkendali dan diwarnai aksi-aksi protes, setelah Aung San Suu Kyi ditangkap pihak militer sejak pengambilalihan kekuasaan pertama kali dilakukan.