Pemimpin Kudeta Kolonel Mamady Doumbouya Disumpah Jadi Presiden Baru Guinea

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Conakry - Kolonel Mamady Doumbouya telah dilantik sebagai presiden sementara Guinea setelah memimpin kudeta yang melihat penggulingan presiden Alpha Conde.

Mantan legiuner Prancis, 41, menjadi pemimpin termuda kedua Afrika, setelah Assimi Goïta dari Mali, 38, yang juga memimpin negara itu usai kudeta militer, demikian seperti dikutip dari BBC, Sabtu (2/10/2021).

Kolonel Doumbouya dilarang mengikuti pemilihan di masa depan di bawah rencana untuk memulihkan pemerintahan sipil yang diumumkan minggu ini.

Kudeta 5 September telah banyak dikutuk oleh komunitas internasional.

Baik badan Afrika Barat Ecowas dan Uni Afrika telah menangguhkan Guinea dari panggung multilateral kawasan itu.

Ecowas juga menjatuhkan sanksi terhadap para pemimpin kudeta dan menuntut agar Guinea kembali ke tatanan konstitusional dalam waktu enam bulan.

Berbicara di istana Mohammed V di Conakry, presiden baru itu mengatakan misinya adalah untuk "mendirikan kembali negara" dengan menulis konstitusi baru, menanggulangi korupsi, mengubah sistem pemilihan dan menerapkan pemilihan "bebas, kredibel dan transparan", menurut kantor berita AFP.

Dia juga berjanji untuk "menghormati semua komitmen nasional dan internasional yang telah dianut negara".

Junta militer Guinea belum menentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan pemilihan.

Tetapi dikatakan siapa pun yang mengambil bagian dalam pemerintahan sementara, yang akan memiliki perdana menteri sipil, akan dilarang mencalonkan diri.

Presiden yang Dikudeta Ditahan Junta Militer

Seorang perempuan berbelanja di pasar Kaporo di Conakry, Guinea, Senin (13/9/2021). Pasukan elit militer Guinea melakukan kudeta dan menangkap Presiden Alpha Conde pada Minggu, 5 September lalu. (AP Photo/ Sunday Alamba)
Seorang perempuan berbelanja di pasar Kaporo di Conakry, Guinea, Senin (13/9/2021). Pasukan elit militer Guinea melakukan kudeta dan menangkap Presiden Alpha Conde pada Minggu, 5 September lalu. (AP Photo/ Sunday Alamba)

Para pemimpin kudeta militer menahan Condé, 83, setelah pengambilalihan mereka, dengan Kolonel Doumbouya meyakinkan media Prancis bahwa dia bersama mereka di "tempat yang aman."

Keberadaannya yang sebenarnya masih belum jelas.

Sebelum naik ke tampuk kekuasaan, kolonel mempertahankan profil sederhana, tetapi yang membuatnya menonjol adalah pengalaman militer internasionalnya, menurut Analis Politik Afrika Barat Paul Melly.

Kolonel dilatih di Perancis dan bertugas di militer Perancis.

Selama 15 tahun karer militernya, Kolonel Doumbouya bertugas dalam misi di Afghanistan, Pantai Gading, Djibouti, Republik Afrika Tengah, Israel, Siprus, Inggris dan Guinea.

Pemimpin baru Guinea berteman dengan sesama dalang kudeta di Mali - Presiden Goïta, menurut situs berita Africa Guinea.

Situs yang sama melaporkan bahwa pada tahun 2018, kedua pria militer itu melintasi jalan di Burkina Faso selama sesi pelatihan yang diselenggarakan oleh tentara AS, yang disediakan untuk komandan pasukan khusus di kawasan itu.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel