Pemimpin Tertinggi Kedua Al Qaeda Dilaporkan Tewas di Iran

Bayu Nugraha
·Bacaan 2 menit

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Pemimpin tertinggi kedua Al Qaeda, yang dituduh membantu mendalangi pemboman tahun 1998 di dua kedutaan besar AS di Afrika, tewas di Iran pada bulan Agustus oleh operasi Israel yang bertindak atas perintah Amerika Serikat.

Dalam laporan New York Times, Sabtu (14/11) yang mengutip pejabat intelijen disebutkan bahwa Abdullah Ahmed Abdullah, yang dipanggil dengan nama samaran Abu Muhammad al-Masri, ditembak mati oleh dua pria dengan sepeda motor di jalan-jalan Teheran pada 7 Agustus.

Menurut New York Times, pembunuhan Masri, yang dianggap sebagai penerus pemimpin al-Qaidah saat ini, Ayman al-Zawahiri, dirahasiakan sampai sekarang.

Untuk alasan yang masih tidak jelas, Al Qaeda belum mengumumkan kematian salah satu pemimpin puncaknya, pejabat Iran menutupinya, dan tidak ada negara yang secara terbuka mengaku bertanggung jawab atas hal itu.

Telah lama ditampilkan dalam daftar Teroris Paling Dicari FBI, Al Masri telah didakwa di Amerika Serikat atas kejahatan yang terkait dengan pemboman kedutaan besar AS di Kenya dan Tanzania, yang menewaskan 224 orang dan melukai ratusan lainnya.

FBI menawarkan hadiah 10 juta dolar AS untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya. Menurut New York Times, pada hari Jumat (13/11), fotonya masih ada dalam daftar Paling Dicari.

Bahwa dia pernah tinggal di Iran sungguh mengejutkan, mengingat Iran dan Al Qaeda adalah musuh bebuyutan. Iran yang adalah Syiah, dan Al Qaeda yang adalah Sunni, telah berperang satu sama lain di medan perang Irak dan tempat lain.

Pejabat intelijen Amerika mengatakan bahwa al-Masri telah berada di "tahanan" Iran sejak 2003, tetapi dia telah hidup bebas di distrik Pasdaran di Teheran, pinggiran kota kelas atas, setidaknya sejak 2015.

Sekitar pukul 9:00 malam, dia sedang mengendarai sedan Renault L90 putihnya bersama putrinya di dekat rumahnya ketika dua pria bersenjata dengan sepeda motor berhenti di sampingnya. Lima tembakan dilepaskan dari pistol yang dilengkapi dengan peredam. Empat peluru memasuki mobil melalui sisi pengemudi dan peluru kelima mengenai mobil di dekatnya.

Media Iran melaporkannya sebagai profesor asal Lebanon, yang adalah anggota Hizbullah, organisasi militan yang didukung Iran di Lebanon. Nyatanya, tidak ada profesor asal Lebanon bernama Habib Daoud.

Beberapa warga Lebanon yang memiliki hubungan dekat dengan Iran mengatakan mereka belum pernah mendengar tentang dia atau pembunuhannya. Pencarian media berita Lebanon tidak menemukan laporan tentang seorang profesor sejarah Lebanon yang tewas di Iran musim panas lalu. Dan seorang peneliti pendidikan dengan akses ke daftar semua profesor sejarah di negara itu mengatakan tidak ada catatan tentang Habib Daoud.

Salah satu pejabat intelijen mengatakan bahwa Habib Daoud adalah alias pejabat Iran yang diberikan kepada al-Masri dan pekerjaan mengajar sejarah adalah samarannya.

Sejauh ini, juru bicara kantor perdana menteri Israel dan Dewan Keamanan Nasional pemerintahan Trump menolak berkomentar.