Pemimpin Tertinggi Taliban Minta Pengakuan Dunia Internasional

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemimpin tertinggi Taliban, Haibatullah Akhundzada muncul untuk kedua kalinya sejak kelompok tersebut merebut kekuasaan di Afghanistan. Akhundzada muncul di kota Kandahar pada Sabtu, sehari sebelum Afghanistan merayakan Idulfitri yang jatuh pada Minggu (1/5).

Dalam kesempatan langka tersebut, dia menyampaikan Taliban telah mencapai kebebasan dan keamanan sejak merebut kekuasaan tahun lalu.

Akhundzada muncul beberapa hari setelah serangan bom di masjid Kabul pada Jumat, menewaskan lebih dari 50 jemaah salat Jumat. Serangan Jumat ini merupakan terbaru dari serangkaian serangan yang menargetkan warga sipil Afghanistan selama bulan Ramadan.

"Selamat atas kemenangan, kebebasan, dan keberhasilan," kata Akhundzada kepada ribuan jemaah di masjid Eidgah, Kandahar, dikutip dari Al Jazeera, Senin (5/2).

"Selamat atas keamanan ini dan untuk sistem Islam."

Dalam rilis yang dikirim sebelum Idulfitri, Akhunzada tidak menyinggung soal serangan di sejumlah masjid di Afghanistan selama Ramadan. Namun dia memuji kekuatan tentara nasional dan Islam Taliban dan juga kekuataan organisasi intelijen.

Dia juga menyerukan komunitas internasional mengakui Emirat Islam Afghanistan. Sampai saat ini belum ada negara di dunia yang mengakui pemerintahan Taliban sejak mengambil alih kekuasaan pada Agustus 2020.

Saat berpidato, Akhunzdada dikelilingi tim pengamanan. Pejabat Taliban tidak mengizinkan jurnalis untuk mendekatinya. Dua helikopter terbang di atas masjid selama dua jam.

Dia pertama kali muncul pada Oktober tahun lalu, saat mengunjungi masjid Darul Uloom Hakimiah di Kandahar, menurut rekaman audio yang disebarkan akun media sosial Taliban.

Ketertutupan Akhundzada memicu spekulasi terkait perannya dalam pemerintahan Taliban, yang baru terbentuk setelah Taliban merebut kekuasaan pada 15 Agustus. Beberapa kali juga muncul rumor terkait kematiannya.

Akhundzada yang diyakini berusia 70an tahun telah menjadi pemimpin Taliban sejak 2016. Dia menggantikan Mullah Akhtar Mansoor yang terbunuh dalam serangan drone Amerika Serikat di Pakistan. Dia diyakini menghabiskan sebagian besar waktunya di Kandahar. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel