Pemkab Kulon Progo siapkan masyarakat hadapi era Aerotropolis

·Bacaan 2 menit

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyiapkan masyarakat siap dan tanggap menghadapi era Aerotropolis, khususnya dampak perubahan sosial yang tidak terelakkan dari masyarakat tradisional agraris ke masyarakat industri dan pariwisata.

Bupati Kulon Progo Sutedjo di Kulon Progo, Rabu, mengatakan dampak perkembangan YIA yang merupakan pengembangan Aerotropolis (airport city) atau kota bandara oleh pemerintah pusat, adalah bagaimana kesiapan warga masyarakat menggunakan unsur penguasaan aset material, penguasaan aset sumber intelektual dan penguasaan aset ideologi untuk menghadapi perubahan yang bakal terjadi.

"Kami berharap masing-masing instansi, masyarakat, hingga konsep perencanaan (masterplan) yang matang akan menjadikan Kulon Progo sebagai kota bandara atau aerotropolis yang memberikan manfaat positif bagi masyarakatnya," kata Sutedjo.

Ia mengatakan kondisi masyarakat awal sebelum dibangun YIA adalah masyarakat tradisional agraris yang memiliki karakteristik tertentu, yaitu sebagian besar bekerja di bidang pertanian sebagai petani dan buruh tani.

Sebagai informasi, aerotropolis didefinisikan sebagai sebuah kota dengan tata letak, infrastruktur, dan sektor ekonomi berpusat pada bandar udara (bandara) sebagai kota bandara.

Namun setelah dibangunnya YIA terjadi perubahan sosial menuju masyarakat industri dan pariwisata yang memiliki karakteristik khusus sesuai dengan perkembangan zaman, teknologi, dan informasi.

"Masyarakat mau tidak mau harus siap, keberadaan dan perkembangan YIA adalah momentum yang sangat strategis dan harus dimanfaatkan sebesar-besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Kulon Progo, namun akan tetapi tetap tidak meninggalkan kearifan dan budaya lokal," katanya.

Sementara itu, Koordinator Standarisasi dan Sosialisasi Pelayanan Kesejahteraan Sosial B2P3KS Yogyakarta Luswihadi mengatakan sebelumnya B2P3KS telah melakukan peneliatan terhadap adanya bandara dan dampak bandara bagi masyarakat, serta potensi yang bisa ditangkap Pemkab dan masyarakat Kulon Progo.

Selanjutnya, hasil penelitian dilanjutkan workshop dengan tujuan sebagai validasi draft model penyiapan masyarakat menghadapi era Aerotropolis Kulon Progo sebagai hasil investigasi dan asesmen sosial B2P3KS Kemensos RI pada 2019-2020 untuk diujicoba kelayakannya secara empirik pada setting masyarakat tertentu.

"Kami berharap tumbuh dukungan dari pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat warga Kabupaten Kulon Progo terhadap kegiatan ujicoba draft Model Penyiapan Masyarakat Menghadapi Era Aerotropolis Kulon Progo," katanya.

Baca juga: Aerotropolis Kualanamu jadi percontohan
Baca juga: Badan Otorita Borobudur percepat pembangunan Borobudur Highland
Baca juga: Kopi Menoreh terus bertahan, berharap kedai dan toko oleh-oleh