Pemkab Mamuju telah turunkan stunting menjadi 30,3 persen

Pemerintah Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) menyatakan telah menurunkan angka penderita stunting dari 43 persen menjadi 30,3 persen.

"Meskipun angka penderita stunting di Mamuju, telah diturunkan dari 43 persen menjadi 30,3 persen, namun pemerintah di Mamuju, terus berupaya melakukan penanganan stunting," kata Bupati Mamuju, Sutinah Suhardi di Mamuju, Jumat.

Ia mengatakan Kabupaten Mamuju menjadi kabupaten penyumbang terbesar ketiga angka stunting di Sulbar yang mencapai 33 persen setelah Kabupaten Polman sekitar 36 persen dan Majene 35 persen.


Baca juga: Longsor putus poros Mamasa-Mamuju

"Persentase angka penderita di Sulbar mencapai 33 persen, dan masih di atas angka stunting nasional yang mencapai 24 persen, sehingga penanganan stunting harus terus dilakukan di Mamuju," katanya.

Menurut dia, pemerintah di Mamuju telah banyak melakukan langkah dalam mengintervensi masalah kesehatan yang berkenaan dengan angka stunting.

"Program penanganan stunting juga telah dimaksimalkan pada sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkab Mamuju," katanya.

Baca juga: Siaga SAR khusus Lebaran, Basarnas Mamuju siagakan 78 personel

"Pemerintah di Mamuju, telah berhasil mewujudkan Universal Health Coverage (UHC) atau cakupan kesehatan semesta dengan mengikutkan seluruh masyarakat Mamuju pada Program BPJS kesehatan, untuk dijamin BPJS mendapatkan pelayanan kesehatan," katanya.

Ia mengatakan, Rp60 miliar APBD Mamuju dialokasikan untuk membayar jaminan BPJS masyarakat Mamuju agar seluruhnya gratis mendapatkan pelayanan kesehatan.

Ia berharap terjadi peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pemenuhan pelayanan kesehatan untuk menekan risiko terjadinya stunting.

Baca juga: Masjid Al Munawarah Mamuju yang dibangun Gubernur Aceh diresmikan

Baca juga: BNPB catat 5.402 kejadian bencana terjadi di Indonesia sepanjang 2021

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel