Pemkab Sidoarjo Teliti Temuan LSM soal Telur Terkontaminasi Dioksin

Liputan6.com, Jakarta - Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Sidoarjo meneliti lebih lanjut dari hasil temuan penelitian Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mengenai sampel penelitian telur ayam kampung terkontaminasi dioksin.

Hasil penelitian menyebutkan sampel telur ayam kampung di Desa Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur mengandung kadar diokstin tinggi. Sampel penelitian telur ayam kampung itu diambil di dekat sebuah pabrik tahu di Sidoarjo yang membakar plastik sebagai bahan bakar.

Konsentrasi dioksin yang tinggi ditemukan di Indonesia ini hampir sama dengan konsentrasi dioksin dalam telur ayam kampung yang diambil di dekat hotspot Agent Orange di Bien Hoa, Vietnam yang dianggap sebagai salah satu lokasi paling terkontaminasi dioksin di dunia.

Hasil penelitian ini dilakukan oleh jaringan global untuk advokasi kebijakan dan kesehatan lingkungan IPEN bersama Arnika Association dan LSM Indonesia Nexus3 dan Ecoton. Penelitian itu dimuat dalam laporan “Limbah Plastik Meracuni Rantai Makanan Indonesia”.

“Masih diteliti lebih lanjut kebenarannya,” ujar Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo, Handajani saat dihubungi Liputan6.com, lewat pesan singkat, Selasa (19/11/2019).

Yani menuturkan, kalau Sidoarjo bukan daerah produsen telur. "Yang jelas Sidoarjo bukan daerah produsen telur di wilayah itu, populasi ternaknya tidak ada dalam laporan,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur Wemmy Niamawati menuturkan, pihaknya bersama pihak terkait mengambil sampel yang terpapar. Sampel diambil telur dan tanah di Mojokerto dan Sidoarjo untuk diujikan. "Ambil sampel diuji di laboratorium untuk pemeriksaan dioksin,” ujar Wemmy dalam wawancara dengan stasiun tv swasta.

Wemmy memastikan, telur di Jawa Timur aman dan sehat. Peternakan di Jawa Timur telah menerapkan good farming practice. Peternakan ayam yang dikelola juga mendapatkan pengawasan dari pemerintah daerah dan pusat. "Ada sumber daya manusia yang menjaga dan meneliti penyidikan terhadap penyakit,” ujar dia.

Wemmy menuturkan, di Desa Tropodo, ada ayam buras yang diumbaran sehingga tidak dipelihara intensif. “Masyarakat di Tropodo tidak ada kejadian ada yang sakit. Ayamnya tidak ada yang mati. Di situ hanya ada ayam buras yang diumbaran. Itu ayam umbaran bukan dipelihara intensif,” ujar dia.

Gubernur Khofifah Imbau Warga Tak Cemas Konsumsi Telur Jatim

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meluncurkan program Millenial Job Center/MJC, East Java Super Coridor/EJSC, dan Big Data di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (27/05/2019) sore. (Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa mengimbau masyarakat tidak perlu cemas dan khawatir mengonsumsi telur yang diproduksi peternak ayam petelur Jatim.

Hal ini karena, telur yang beredar di masyarakat adalah telur yang sehat dan diproduksi dengan menerapkan pola good farming practices. Good farming practices adalah tatalaksana peternakan yang meliputi segala aktivitas teknis dan higinis dalam hal pemeliharaan sehari-hari, cara dan sistem pemberian pakan, sanitasi, serta pencegahan dan pengobatan penyakit.

"Sebanyak 96,3 persen telur di Jawa Timur dihasilkan dari ayam ras petelur yang sudah menerapkan good farming practices, dan sisanya  3,7 persen telur dari ayam buras/kampung yang belum dikandangkan secara permanen, di antaranya ditemukan di  daerah Tropodo. Untuk itu, masyarakat jangan khawatir karena telur dari Jatim sehat dan tidak mengandung racun," terang Khofifah sapaan akrab Gubernur Jatim saat melakukan kunjungan ke Kelompok Telur Intan di Kecamatan Tumpang, Malang, Minggu, 17 November 2019, seperti dikutip dari keterangan tertulis.

Khofifah mengungkapkan, imbauan ini disampaikan sehubungan dengan adanya rilis hasil penelitian jaringan kesehatan global (IPEN). Yang menyebutkan, ayam buras/kampung yang dipelihara secara umbaran dan mencari makan di tumpukan plastik di daerah Tropodo, Sidoarjo, memiliki tingkat kontaminasi dioksin terparah kedua sedunia.

Untuk memastikan, peternakan rakyat sudah menerapkan good farming practices, khofifah didampingi dinas peternakan provinsi Jatim, bupati Malang serta dekan fakultas peternakan Universitas Brawijaya melakukan kunjungan langsung ke daerah peternakan rakyat ayam petelur di Plumpang - Malang. 

Kunjungan tersebut difokuskan di peternakan milik H Kholik yang memiliki populasi sekitar 300 ribu ekor ayam, dengan produksi telur sekitar 14 ton/hari atau setara 210 ribu butir/hari. Dimana, di peternakan ini quality controlnya sangat terjaga.

Bahkan, telur-telur yang dipasarkan peternakan ini hanya yang Grade A atau kualitas terbaik. "Telur-telur yang dipasarkan peternakan ini hanya yang Grade A dengan kualitas terbaik. Sedangkan yang Grade B tidak dipasarkan. Untuk itu, telur-telur ini sangat aman dikonsumsi masyarakat," kata Khofifah.

Orang nomor satu di Jatim ini menambahkan, pemeliharaan unggas dengan penerapan good farming practices terhadap 92,5 persen unggas penghasil telur di Jatim telah menggunakan pakan yang memiliki Nomor Pendaftaran Pakan (NPP).

Terlebih lagi, produksi telur unggas di Jatim pada 2018 mencapai 543,56 ribu ton atau setara 8,2 miliar butir telur. Serta berkontribusi sebesar 29 persen terhadap nasional atau peringkat 1 nasional. "Jatim telah surplus telur unggas mencapai 2,8 milyar butir telur, dan telah mampu mensuplai provinsi lain di Indonesia," urai mantan Menteri Sosial ini.

Upaya Pemprov Jatim

Untuk menjamin kualitas dan mutu telur di Jatim, Pemprov Jatim melalui Dinas Peternakan telah melakukan berbagai upaya. Salah satunya dengan sertifikasi kompartemen bebas penyakit flu burung di seluruh breeding farm yang memproduksi bibit untuk ayam petelur dan pedaging final.

Selain itu, dengan melakukan uji yang dilanjutkan sertifikasi bebas penyakit Pullorum untuk induk ayam yang menghasilkan bibit ayam umur sehari yang akan diedarkan ke masyarakat.

Serta, melakukan pengambilan dan pengujian sampel telur dan daging unggas oleh Laboratorium Kesehatan Hewan secara periodik. Bagi para peternak ayam petelur, Khofifah juga berpesan, agar tidak perlu resah karena telur yang diproduksi adalah telur yang berkualitas, di bawah pengawasan Dinas Peternakan Provinsi maupun kabupaten/kota. Sehingga, akan tetap dibutuhkan oleh konsumen.

"Para peternak ayam telur jangan resah, karena telur yang dihasilkan berkualitas dan tidak mengandung racun. Oleh sebab itu, konsumen juga masih sangat membutuhkannya," terangnya.

Gubernur perempuan pertama di Jatim ini meminta, bagi masyarakat yang memelihara ayam kampung dengan cara dilepas atau diumbar untuk segera beralih pemeliharaan unggas dengan skala bisnis dan dikandangkan.

"Bagi masyarakat yang memelihara ayam kampung dengan cara diumbar, harap segera beralih dengan mengkandangkan ayam peliharaannya. Hal ini penting dilakukan untuk menjamin telur yang dihasilkan," tutur dia.

Secara khusus untuk Pemkab Sidoarjo, pihaknya berharap agar segera melakukan koordinasi dengan camat,lurah dan kades setempat. Utamanya untuk melakukan pembinaan kepada peternak ayam petelur agar melakukan budidaya secara higienis.

"Saya harap Pemkab Sidoarjo lewat segera koordinasi dengan seluruh jajarannya, agar bisa melakukan pembinaan untuk budidaya higenis maupun kandangisasi. Hal ini penting, karena tugas pemerintah adalah memberikan solusi terbaik bagi masyarakat termasuk peternak," pungkas Khofifah.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini