Pemkab Sumenep gandeng Uniba tekan kasus kekerdilan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur menggandeng Universitas Bahaudin Mudhary Madura (Uniba) guna menekan kasus kekerdilan pada balita di wilayah itu.

Menurut Bupati Sumenep Achmad Fauzi di Sumenep, Rabu, prevalensi balita yang mengalami kasus kekerdilan tergolong tinggi, yakni mencapai 29,4 persen dari jumlah anak yang ada di wilayah itu.

"Karena itu, sebagai upaya untuk menekan jumlah balita yang mengalami kekerdilan di Sumenep ini, maka kami menggandeng Uniba," katanya, menjelaskan.

Peran perguruan tinggi sangat penting dalam ikut memberikan solusi, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh para akademisi itu.

Selain perguruan tinggi, instansi terkait lainnya yang juga dilibatkan Pemkab Sumenep dalam menekan kasus kekerdilan adalah pelaku usaha.

Baca juga: Kasus kekerdilan di Bangkalan menurun selama 2021
Baca juga: Kasus balita kekerdilan di Jatim turun selama tiga tahun terakhir

Pemkab juga merekrut sebanyak 866 tenaga pendamping keluarga sebagai upaya menekan kasus balita kekerdilan di wilayah itu.

"Melalui upaya terpadu dengan dukungan semua pihak ini, kami yakin kasus kekerdilan di kabupaten ini bisa ditekan sesuai harapan," katanya, menjelaskan.

Menurut bupati, target prevalensi kasus kekerdilan yang ditetapkan pemerintah pusat adalah 14 persen dari total jumlah balita.

Sebelumnya pada acara dialog nasional bertajuk 'Peran Mahasiswa Peduli Stunting' di kampus itu, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat Hasto Hardoyo menyatakan, prevalensi kasus balita kerdil di Sumenep sebenarnya tergolong rendah dibanding tiga kabupaten lain di Pulau Madura.

Sebab di prevalensi balita kerdil di tiga kabupaten itu lebih dari 29 persen.

Baca juga: Pemkot Madiun berhasil turunkan stunting hingga 12 persen

Baca juga: Ketua DPR beri bantuan penderita stunting dan disabilitas di Magetan


Ia juga menilai kerja sama dengan Uniba sangat tepat, karena perguruan tinggi dengan tagline 'Tera' Ta' Adamar' selama ini dikenal kampus yang aktif dalam pembinaan sosial dan sering melakukan penelitian menyangkut kesejahteraan masyarakat.

'Tera' Ta' Ademar' adalah bahasa Madura dan artinya adalah terang tanpa lampu.

"Kami berharap dengan dilakukannya nota kesepahaman antara Uniba dengan Pemkab Sumenep, semakin memicu semangat untuk bergotong royong mencegah stunting," katanya.

Baca juga: BKKBN kukuhkan istri wali kota dan bupati se-Jatim sebagai Bunda Genre

Baca juga: BKKBN: TNI berperan sosialisasikan KIE gizi guna tekan balita kerdil