Pemkot Jakbar latih disabilitas jadi pemijat dan pembatik profesional

Pemerintah kota Jakarta Barat melatih warga penyandang disabilitas yakni tuna rungu dan tunanetra menjadi pemijat dan perajin batik profesional.

"Tuna rungu kita latih jadi pembatik profesional dan tuna netra kita latih jadi tukang pijat profesional," kata kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Barat, Suprapto, saat ditemui di kantor Wali Kota Jakarta Barat, Kamis.

Pelatihan itu digelar agar warga penyandang disabilitas mendapatkan keahlian khusus yang bisa dipakai sebagai mata pencaharian.

Tercatat ada 50 tunanetra yang mengikuti pelatihan menjadi pemijat pada awal 2022. Beberapa bulan kemudian, pihaknya bersama Suku Dinas Kebudayaan menggelar pelatihan membatik untuk 50 penyandang tunarungu.

Terakhir pada awal Agustus 2022 lalu, pihaknya baru saja menggelar pelatihan untuk 100 tunanetra menjadi pembuat rekaman audio untuk didengar khalayak umum melalui media internet (siniar/podcast).

"Para tunanetra ini kita pilih dari Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) di Jakarta Barat dan untuk tuna rungu kita pilih dari panti sosial," jelas Suprapto.

Suprapto menjelaskan pelatihan ini hanya dilakukan sebanyak satu kali saja. Namun demikian, pihaknya tidak serta merta melepaskan mereka setelah pelatihan.

Pasca pelatihan, Sudin Sosial akan terus memantau perkembangan keahlian mereka hingga akhirnya bisa menjadi pekerja profesional.

"Kita belum bisa lakukan pelatihan secara berkelanjutan karena keterbatasan anggaran," jelas Suprapto.

Suprapto pun tidak menjelaskan secara rinci terkait dana yang digelontorkan untuk menggelar pelatihan keahlian ini.

Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bagi pihaknya untuk menggelar program pelatihan serupa berkolaborasi dengan swasta.
Baca juga: DPRD DKI masukkan pasal pembentukan dewan disabilitas dalam perda
Baca juga: Penyandang disabilitas Jakarta segera dapat layanan habilitasi harian
Baca juga: DPRD DKI minta perda disabilitas cantumkan jaminan kesehatan