Pemkot Surabaya Asuh 600 Anak Yatim Terdampak COVID-19

·Bacaan 1 menit

VIVA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melakukan pendataan jumlah anak yatim, piatu atau yatim-piatu yang orangtuanya meninggal dunia karena terpapar COVID-19. Untuk sementara ini, sudah ada 600 anak Surabaya yang terverifikasi dan sudah dalam pengasuhan pemkot.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, 600 anak yang terverifikasi itu sebagian dari 1.400 keluarga yatim datanya masuk ke pemkot. Kepada mereka, pemkot menyediakan beasiswa sampai kuliah.

“Kita petakan berapa yang SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Pemkot Surabaya juga menyiapkan asrama jika keluarga yang lain memperkenankan anak-anak tersebut tinggal di asrama," ujar Eri dalam keterangan tertulis diterima pada Senin, 23 Agustus 2021.

Eri menambahkan, "Hak pengasuhan pun kami dampingi. Harus ada keluarga yang bisa mengasuh, melindungi, menjaga. Kalau tidak maka pemkot akan memberikan asrama."

Politikus PDI Perjuangan itu meminta kepada seluruh warga Surabaya agar melaporkan apabila ada anak yatim, piatu, atau yatim-piatu karena ditinggal mati orangtuanya karena COVID-19 yang belum masuk data pemkot agar ditindaklanjuti. Laporan bisa disampaikan kepada lurah atau camat.

Eri kian berkomitmen untuk mengasuh dan menjamin pendidikan ratusan yatim, piatu, atau yatim-piatu di Surabaya kala ia bersama istri mengunjungi salah satu anak yatim bernama Ellen di rumahnya baru-baru ini.

Bocah berusia tiga tahun itu menjadi yatim-piatu setelah ayah dan ibunya, Eldiaz Nainggolan dan Cristina Margereta, meninggal dunia pada Juli 2021 lalu setelah terpapar COVID-19.

“Sedih. Rasanya sulit kita bayangkan bisa ditanggung seorang anak berusia tiga tahun. Seorang anak tunggal yang dalam empat hari harus kehilangan kedua orangtua,” kata Eri.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel