Pemprov DKI Akan Bangun Dua Pengolahan Sampah Baru di Bantargebang

·Bacaan 2 menit
Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. (foto: PPID Jakarta)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto menyatakan pihaknya akan membangun dua fasilitas pengolahan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat.

Hal tersebut disebabkan kapasitas TPST Bantargebang yang sudah mulai kelebihan kapasitas.

"Kapasitas Bantargebang ya bisa dikatakan memang sudah kritis yah makanya kita tahun ini sedang berupaya membangun dua fasilitas di Bantargebang," kata Asep di Balai Kota, Jakarta Pusat, Rabu (13/10/2021).

Dia menjelaskan sistem yang digunakan nantinya dengan teknologi refuse-derived fuel (RDF). Nantinya bentuknya masih seperti sampah, tetapi begitu kering, RDF merupakan sampah yang mudah terbakar dan telah mengalami pemilahan serta diproses melalui pencacahan, pengayakan dan klasifikasi udara.

Asep juga menyatakan hasil RDF dapat dijual. Selain itu, setiap 1.000 ton hasil olahan sampah menghasilkan sekitar 750 ton RDF.

"Kalau harganya kita memang belum ada kesepakatan, tetapi kalau melihat best practice yang sudah dilakukan Pemkab Cilacap itu Rp 300 ribu per ton," ucapnya.

Lanjut dia, harga investasi pembangunan dua pengolahan sampah Bantargebang sebesar Rp 905 miliar dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) DKI.

Asep juga menyebut angka itu lebih kecil dibandingkan dengan pembangunan fasilitas pengolahan sampah terpadu atau Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter, Jakarta Utara.

"Insya Allah awal Desember 2021 kita sudah mulai konstruksi," jelas dia.

Melebihi Kapasitas

Sebelumnya, kondisi sampah di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, nyaris kelebihan kapasitas. Saat ini gunungan sampah milik Pemprov DKI Jakarta itu disebutkan sudah mencapai lebih dari empat puluh meter, dari ketinggian maksimal lima puluh meter.

Meski demikian, puluhan alat berat masih dioperasikan pekerja untuk menata sampah-sampah yang terus berdatangan. Sejumlah pemulung juga masih tetap beraktivitas seperti biasa, tanpa khawatir bahaya longsor yang mengancam keselamatan.

Kepala Satuan Pelaksana TPST Bantargebang Unit Pengelolaan Sampah Terpadu (UPST) DKI Jakarta, Handoko Raitno, saat dikonfirmasi mengatakan kondisi sampah yang nyaris overload disebabkan keterbatasan lahan.

Ia berujar, dalam sehari ada sekitar 7.000-7.500 ton sampah milik warga DKI Jakarta yang dibuang ke TPST Bantargebang. Seluruh sampah berasal dari lima wilayah, yaitu Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, termasuk Kepulauan Seribu.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel