Pemprov Jabar Siapkan 400 Relawan Nakes untuk Perkuat SDM Fasyankes

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Bandung Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat (Jabar) intens memperkuat fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) dalam menghadapi peningkatan kasus COVID-19 yang signifikan.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan, selain menambah kapasitas tempat tidur bagi pasien COVID-19, baik di rumah sakit rujukan maupun pusat isolasi non rumah sakit, Pemda Provinsi Jabar akan menyiapkan 400 relawan tenaga kesehatan.

"Kami akan bantu dengan dana APBD Jabar menyediakan 400 nakes. Kemudian ada juga bantuan alat kesehatan berupa alat bantu pernapasan, terutama untuk rumah sakit swasta di daerah," ucapnya dalam jumpa pers secara daring dari Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu (30/6/2021).

Penanganan COVID-19 di Jabar sendiri menerapkan pola hulu-hilir. Menurut Kang Emil, sapaan Ridwan Kamil, pola hulu adalah dengan menyiapkan tempat isolasi di desa-desa. Sehingga masyarakat sekitar yang terpapar COVID-19 namun memiliki gejala ringan tidak perlu dilarikan ke rumah sakit.

Sedangkan untuk pola hilir adalah dengan memindahkan atau transisi pasien COVID-19 yang akan sembuh ke beberapa tempat dari mulai hotel, apartemen, rusun hingga tempat isolasi di desa-desa. Sehingga pasien COVID-19 yang benar-benar membutuhkan penanganan medis bisa diakomodasi di rumah sakit.

"Kami sudah berkoordinasi dengan rumah sakit untuk menambah kapasitas bagi pasien COVID-19. Kemudian menambah tempat isolasi non rumah sakit. Salah satunya pusat pemulihan seperti di hotel-hotel. Kami berupaya agar rumah sakit hanya untuk pasien bergejala sedang sampai berat," katanya.

Tempat Isolasi di Desa dan Kelurahan

"Sementara yang tidak bergejala dan bergejala ringan bisa menjalani isolasi dan penanganan di tempat isolasi di desa dan kelurahan ataupun pusat isolasi non rumah sakit lainnya. Pasien yang sudah menunjukkan perbaikan kesehatan setelah mendapat penanganan di rumah sakit akan dipindahkan ke pusat pemulihan kesehatan, supaya BOR di rumah sakit terus berkurang," imbuhnya.

Kang Emil pun melaporkan, kasus varian delta sudah ditemukan di sembilan daerah di Jabar. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat Jabar untuk memperkuat penerapan protokol kesehatan (prokes) 5M. Kedisiplinan masyarakat menerapkan prokes amat penting dalam mencegah penularan COVID-19.

"Varian delta ini tingkat penyebarannya tinggi, tetapi tingkat kematiannya rendah. Namun demikian, saya tetap mengingatkan agar protokol kesehatan 5M ketat dijalankan untuk mencegah penyebaran," ucapnya.

(*)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel