Pemprov Jatim fokus penanganan korban tragedi Kanjuruhan

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyatakan tengah fokus untuk memberikan penanganan kepada para korban akibat tragedi yang terjadi di Stadion Kanjurukan, Kabupaten Malang, pada Sabtu (1/10) usai laga antara Arema FC dan Persebaya.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu mengatakan bahwa penanganan diberikan terutama kepada para korban yang saat ini masih membutuhkan tindakan medis akibat mengalami luka-luka.

"Kami akan fokus pada penanganan korban, baik yang mereka membutuhkan tim DVI, yang membutuhkan tindakan karena luka berat maupun luka ringan," kata Khofifah.

Khofifah menjelaskan, bagi para korban yang membutuhkan identifikasi, saat ini akan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Saiful Anwar Kota Malang. Para korban dibawa ke RSUD Saiful Anwar karena pada rumah sakit tersebut memiliki peralatan yang lebih lengkap.

Selain itu, lanjutnya, penanganan para korban yang membutuhkan tindakan lebih juga akan dipindahkan ke RSUD Saiful Anwar Kota Malang. Ia memastikan bahwa biaya penanganan para korban tersebut ditanggung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

"Tim di RSUD Saiful Anwar relatif peralatan dan tim medisnya cukup lengkap. Maka yang membutuhkan identifikasi dari jenazah yang belum atau tidak membawa identitas akan bisa dilakukan," ujarnya.

Baca juga: Sebanyak 17 jenazah korban Kanjuruhan telah diidentifikasi di RSSA

Berdasarkan data terakhir, korban meninggal dunia akibat tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur pascapertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya bertambah menjadi 129 orang.

Kericuhan terjadi usai pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya dengan skor akhir 2-3 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu malam. Kekalahan itu menyebabkan sejumlah suporter turun dan masuk ke dalam area lapangan.

Kerusuhan tersebut semakin membesar dimana sejumlah flare dilemparkan termasuk benda-benda lainnya. Petugas keamanan gabungan dari kepolisian dan TNI berusaha menghalau para suporter tersebut.

Petugas pengamanan, kemudian melakukan upaya pencegahan dengan melakukan pengalihan agar para suporter tersebut tidak masuk ke dalam lapangan dan mengejar pemain. Dalam prosesnya, akhirnya petugas melakukan tembakan gas air mata.

Ditembakkannya gas air mata tersebut dikarenakan para pendukung tim berjuluk Singo Edan yang tidak puas dan turun ke lapangan itu telah melakukan tindakan anarkis dan membahayakan keselamatan para pemain dan ofisial.

Baca juga: KPID Jatim ingatkan TV-radio hati-hati beritakan tragedi Kanjuruhan