Pemprov Jatim-GDTC Maroko sepakat kerja sama senilai Rp8,5 triliun

·Bacaan 2 menit

Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan Group of Development Technologies and Construction Companies (GDTC) Maroko menyepakati kerja sama yang nilainya sekitar Rp8,5 triliun sebagai bentuk dukungan pembangunan di wilayah setempat.

"Ini momen penting, dan saya harap seluruh pihak bisa memanfaatkannya dengan baik," ujar Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak di sela menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman kerja sama di Gedung Negara Grahadi di Surabaya, Sabtu petang.

Penandatanganan dilakukan oleh Chairman GDTC Maroko, HEH Sharif Moulay Sidi Al Sultan Ahmad Bin Zuhir Bin Mohammad Bin Jaber Al Natour dengan tujuh Direktur BUMN dan BUMD di Jatim di Grahadi.

Total nilainya yaitu Rp8.592.425.221.600, yang rincian-nya berupa Proyek Pengembangan Pelabuhan Terminal Umum di Kota Probolinggo dengan PT Delta Artha Bahari Nusantara (DABN) senilai Rp2,1 triliun

Lalu, proyek pembangunan dan pengoperasian pengolahan air di Kawasan Industri Java Integrated and Ports Estate (JIIPE), Maspion dan NIP dengan PT Air Bersih Jatim senilai Rp347 miliar dan Proyek Pembangunan Puspa Agro dengan PT Jatim Graha Utama senilai Rp1.783.111.250.000.

Proyek Pembangunan Kawasan Wisata "Ngawi Planetarium Agro Park" dengan PD. Sumber Bhakti senilai Rp125 miliar, Proyek Pembiayaan Bisnis Jasa Sterilisasi Ultimate EBM dan X-Ray dengan PT. Kasa Husada senilai Rp300 miliar.

Kemudian, proyek Pembangunan Tol Pasuruan-Probolinggo dengan PT. Trans Jawa Paspro senilai Rp1.506.313.971.600, serta Proyek Pembangunan Tol Krian Legundi dengan PT. Waskita Bumi Wira senilai Rp2.431.000.000.000.

Kesepakatan tersebut merupakan hasil Rapat Koordinasi Usulan Projek Kerja Sama antara GDTC dan Perusahaan, BUMD dan BUMN di Jawa Timur, yang ditindaklanjuti dengan tujuh proyek tersebut.

Baca juga: Bahlil ungkap cara eksekusi investasi mangkrak di Jatim

Baca juga: Kadin lakukan pemetaan persoalan yang membelit investasi di Jatim

Menurut Wagub Jatim, peran kepala daerah dinilai sangat penting dalam menginventarisasi dan mengidentifikasi peluang investasi di daerah-nya masing-masing.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI, pertumbuhan realisasi investasi Jatim mengalami pertumbuhan signifikan pada 2020 di masa pandemik COVID-19, yaitu 33,8 persen, dibandingkan 2019 sebesar 14,3 persen.

Sedangkan dari segi makro ekonomi, Jawa Timur menyumbang perekonomian terbesar kedua di Pulau Jawa dengan kontribusi sebesar 24,62 persen.

Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur mengalami kontraksi sebesar 0,44 persen yang didominasi oleh sektor industri 30,94 persen, perdagangan 18,68 persen dan pertanian 10,84 persen.

Sehingga, kata dia, dengan disepakati-nya MoU tersebut akan ditindaklanjuti dan menjadi peluang tumbuhnya pembangunan yang cukup signifikan di Jatim.

"Jadi ini langkah awalnya. Nanti akan ada pembahasan lanjutan yang tentunya akan dibahas secara teknis," tutur Emil Dardak.

Karena GDTC memang tertarik dengan proyek-proyek yang ada kaitannya dengan pemerintah. Baik dari sisi infrastruktur maupun proyek yang dimiliki BUMD maupun BUMN, kata orang nomor dua di Pemprov Jatim tersebut.

Sementara itu, Chairman GDTC Maroko HEH Sharif Moulay Sidi Al Sultan Ahmad Bin Zuhir Bin Mohammad Bin Jaber Al Natour berterima kasih atas disepakati-nya tujuh kesepakatan.

"Kerja sama ini memberikan peluang yang baik. Terima kasih sebanyak-banyaknya. Saya senang bisa berinvestasi di sini. Semoga momen ini, utamanya di bulan suci bisa membawa kebaikan bagi semuanya," tutur-nya.