Pemprov Undang Investor PLTS Atap Buka Kantor di Jawa Tengah

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Jawa Tengah pada tahun 2025 mencapai 21,32 persen. Salah satu energi yang berpotensi dan tengah dikembangkan yakni Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap.

Sayangnya, Kepala Dinas Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko mengatakan belum banyak vendor penyedia infrastruktur PLTS Atap yang berkantor di Jawa Tengah. Padahal, Jawa Tengah sangat berpotensi dalam penggunaan PLTS Atap.

"Di Jawa Tengah ini sebenarnya belum banyak para vendor yang hadir. Jadi kapan mau buka kantor di Jawa Tengah, tenanan loh serius kalau buka di sini," ungkap Sujarwanto dalam Webinar Central Java Solar Day, Jakarta, Selasa (16/2).

Dia menjelaskan, selama ini pemasangan PLTS Atap di Jawa Tengah masih dirasa kurang maksimal. Sebab semua perlengkapan infrastruktur selalu menunggu dari Jakarta.

Walaupun pengiriman peralatan masih relatif cepat karena didukung infrastruktur yang ada, namun tetap dirasa belum maksimal. Kehadiran kantor cabang menurutnya bisa lebih meyakinkan masyarakat untuk terlibat dalam penggunaan PLTS Atap.

"Jadi kalau orang mau pasang ini enggak harus nunggu barang dari Jakarta, Meski sekarang sudah cepat tapi konsumen akan lebih yakin kalau ada office-nya di sini," kata dia.

Saat ini dia menyebut baru beberapa vendor PLTS Atap lokal. Namun penawaran yang diberikan terbilang masih tinggi bagi masyarakat awam.

Padahal bila dilakukan kalkulasi dalam jangka panjang, penggunaan PLTS Atap justru menghemat biaya penggunaan listrik. Dalam beberapa tahun terakhir pun, Sujarwanto telah memasang PLTS Atap di rumahnya. Secara kalkulasi, dia bisa menghemat biaya listrik di rumah sampai 25 persen.

"Di rumah pribadi saya juga sudah dipasang dan bisa menghemat biaya bulanan sampai 25 persen," kata dia mengakhiri.

Anisyah Al Faqir

Minat Pasang PLTS Atap? Ketahui Dulu 3 Skema Pembiayaannya

Teknisi melakukan perawatan panel pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di atap Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (6/8/2019). PLTS atap yang dibangun sejak 8 bulan lalu ini mampu menampung daya hingga 20.000 watt. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Teknisi melakukan perawatan panel pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di atap Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (6/8/2019). PLTS atap yang dibangun sejak 8 bulan lalu ini mampu menampung daya hingga 20.000 watt. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Kepala Dinas Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko menyebut ada tiga skema yang ditawarkan investor dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di Jawa Tengah.

Skema pertama yang ditawarkan yakni pola untuk serah bangun. Dalam sekam ini investor akan membangun dan mengoperasikan PLTS Atap. Setelah dibangun investor, PLTS Atap ini akan dioperasikan investor selama jangka waktu tertentu.

Selama jangka waktu tersebut, klien tetap membayarkan biaya listrik yang dipakai sesuai penggunaan biasanya. Sehingga bagi industri, investasi ini seperti tidak mengeluarkan dana.

"Selama pengoperasian itu dia (investor) dapat biaya pengembalian dengan komit pembayaran listriknya seolah-olah seperti ke sebelumnya. Investasi ini buat industri jadi enggak usah bayar," kata Sujarwanto dalam Webinar Central Java Solar Day, Jakarta, Selasa (16/2).

Skema kedua yakni pola beli putus. Dalam hal ini, semua biaya pemasangan alat menjadi tanggungan klien. Investor hanya berperan sebagai pemasang alat di awal. Sehingga peroperasiannya dikelola sendiri oleh klien atau industri.

"Beli putus ini artinya industri membeli dan investor membangun saja, untuk pengoperasinnya nanti sama industri sendiri," kata dia.

Sedangkan skema ketiga yakni pola sharing. Baik investor atau klien membuat kesepakatan bersama dalam pendanaan, pembangunan dan pengelolaan PLTS Atap.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: