Pemuda Cepak di 3 Foto Ini Ternyata Jenderal TNI Luhut Panjaitan

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Jika mendengar nama Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Luhut Binsar Panjaitan, tentu banyak orang yang sudah sering mendengar bahkan mengetahuinya. Namun, tak banyak orang tahu bahwa jenderal bintang empat asli Batak ini adalah komandan satuan elite di dalam pasukan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

VIVA Militer beberapa kali mencoba menyampaikan, bagaimana sepak terjang sosok seorang Luhut Binsar Panjaitan saat masih aktif berdinas sebagai seorang prajurit.

Perlu diketahui, Luhut adalah salah satu jebolan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) pada 1970. Mengapa disebut sebagai abituren pertama AKABRI?

Dalam data yang dikutip VIVA Militer dari situs resmi Akademi Militer, AKABRI diresmikan pada 29 Januari 1967. AKABRI sendiri adalah institusi pendidikan yang mengintegrasikan calon perwira TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara dan Polri.

Luhut adalah salah satu Taruna yang mengikuti pendidikan di AKABRI saat itu. Selain Luhut, beberapa nama lain yang juga menjadi Perwita Tinggi (Pati) TNI Angkatan Darat abituren 1970 adalah Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi dan Letjen TNI (Purn.) Widjojo Agus Widjojo.

Memang takkan ada habisnya jika membicarakan pengabdian seorang Luhut Binsar Panjaitan. Lulusan terbaik AKABRI peraih penghargaan Adhi Makayasa ini menghabiskan karier selama hampir 30 tahun sebagai seorang prajurit TNI Angkatan Darat.

Salah satu pencapaian Luhut adalah saat dipercaya menjadi Komandan Satuan 81 Kopassus, atau yang lebih dikenal dengan Sat-81/Gultor (Penanggulangan Teror) pada 1981. Tak hanya itu, Luhut juga ikut serta dalam sejumla operasi militer sepanjang kariernya.

Salah satu operasi militer di mana Luhut berperan sangat penting adalah Operasi Seroja di Timor-Timur. Tercatat, Luhut pernah menjadi Komandan Tim C Grup 1 Para Komando Satuan Lintas Udara Operasi Seroja pada 1975.

Setelah itu, Luhut berhasil meraih predikat Komandan Kompi (Danki) dalam Operasi Seroja, saat menjadi Komandan Pasukan Pemburu Kopassandha (sekarang Kopassus) pada Elemen Satgas Tempur Khusus pada 1976. 10 tahun kemudian, Luhut kembali ke Timor-Timur dan menjadi Komandan Satgas Tempur Khusus Pasukan Pemburu Kopassus di sektor Osu, Frekueike dan Laisorobai.

Tak hanya dikenal sebagai prajurit tempur yang hebat, Luhut juga adalah seorang tentara yang cerdas. Meskipun, ia tak pernah menduduki posisi strategis seperti Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus, Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam), Panglima Komando Cadangan Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad), atau Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad).

Dua posisi yang diduduki Luhut saat berpangkat Letnan Jenderal (Letjen) TNI adalah Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Danpussenif) TNI Angkatan Darat, dan Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan dan Latihan Angkatan Darat (Dankodiklat).

Setelah pensiun pada tahun 1999, pengabdian Luhut tak berhenti. Ia sempat menjadi Duta Besar Republik Indonesia (RI) untuk Singapura, Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Kepala Staf Kepresidenan, Menteri Perhubungan, hingga sekarang menjadi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Dikenal sebagai pribadi yang lugas, tegas dan apa adanya, Luhut memang sangat disegani. Memang ada banyak foto yang menunjukkan saat pria 73 tahun ini berada di hutan belantara Timor-Timur saat melaksanakan Operasi Seroja. Namun demikian, jarang sekali ada foto-foto masa muda Luhut terutama saat masih menjadi Taruna AKABRI.

Tiga foto di atas adalah masa di mana Luhut masih menempuh pendidikan dan menempa diri di AKABRI. Jauh dari kata sangar, Luhut yang saat itu masih berusia sekitar 20 tahun, terlihat sangat muda. Satu foto lainnya adalah saat Luhut sudah menjadi anggota dan instruktur di Kopassus.