Pemuda dan Mentalitas Nasionalisme

Syahdan Nurdin, michaelgandamanarsarhutajulu-545
·Bacaan 3 menit

VIVADas alte struzt, es andert sich die zeit, und reus leben bluht aus den ruinen, seid eining-eing-eining ( yang lama sedang ambruk, zaman sedang berubah, kehidupan baru sedang berkembang di atas puing), “Bung hatta.

Pada setiap zaman, satu generasi lahir dengan konsepsi, pola, dan gerakannya masing-masing. Generasi 1908 hadir dengan konsepsi Gerakan sosialnya yang menginspirasi munculnya gerakan-gerakan selanjutnya dengan paham kebangsaan.

Generasi 1928 dengan semangat kebangsaan yang dikristalisasi dalam sumpah oemuda 1928, Generasi 1945 dengan proklamasi kemerdekaan berikut juga dengan dasar-dasar bernegara, generasi 1966 dengan tritura, generasi 1998 dengan perjuangan memajukan dan mengimplementasikan nila-nilai luhur demokrasi dan perjuangan Hak asasi manusia (HAM)

Pada setiap kemunculan generasi baru dalam pergerakan nasional Indonesia, pemuda selalu berada di garda paling depan dan mengambil peranan paling dominan dan menonjol.

Jelas begitu pentingnya peranan pemuda dalam kebangkitan nasional, mengingat pemuda dan idealisme sebagai napas pergerakannya, mereka merupakan kaitan kesatuan yang tak dapat di pisah-pisahkan sehingga jiwa yang membara tersebut terus bergelora

Ben Anderson dalam bukunya Java In A Time Of Revolution,Occupation And Resisten 1944-1946 menyebutkan bahwa pemudalah yang memegang peranan sentral dalam pecahnya revolusi 1945 dan bukan kaum intelegensia yang terasingkan, dan bukan juga kelas-kelas yang tertindas.

Dr.Sutomo dan mangunkusumo beserta kawan-kawannya yang mendirikan Boedi Oetomo 20 Mei 1908 yang melahirkan tonggak kebangkitan nasional adalah para pemuda yang memiliki kesadaran kebangsaan yang sangat tinggi. Bahkan menginspirasi Gerakan nasional Indonesia selanjutnya.

Dalam menyambut hari sumpah pemuda tantangan kehidupan kebangsaan kita hari-hari ini memerlukan tampilnya para pemuda yang kuat semangat solidaritasnya, teguh integritasnya, serta professional dalam bidang pengabdiannya.

Solidaritas pada dasarnya mengandung nilai empati sosial yang yakni kemampuan merasakan penderitaan sesama dan kesadaran untuk berbagi rasa dengan orang lain. Integritas ditandai dengan adanya keteguhan akhlak,moralitas,sikap berani, dan bertanggung jawab.

MENTALITAS NASIONALISME PEMUDA

Sedangkan profesionalitas mengandalkan adanya etos kerja, kemampuan inovasi,produktivitas,dan kemampuan berdaya saing. Ketiga pilar ini lah solidaritas, integritas dan profesionalitas, yang perlu kita kembangkan sebagai modal terbesar bagi para pemuda dalam mengokohkan nasionalisme dan memperkuat pembentukan karakter bangsa (nation and character building), demi menuju masa depan bangsa yang lebih sejahtera dan bermartabat.

Dalam perjalanan panjang bangsa ini, pemuda selalu tampil sebagai ujung tombak perubahan. Fakta sejarah membuktikan hal tersebut, mengutip Bung Karno, kita tidak boleh melupakan sejarah.

Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah; JAS MERAH! Orang yang melupakan sejarah kata Sukarno,adalah orang yang akan menjadi bayi seumur hidup. Oleh karena itu pemuda hari ini tidak bisa melepaskan diri nilai-nilai sejarah dan semangat kebangsaan (nasionalisme) 1908.

Dalam pasang surut perjalanan sejarah telah membuktikan bahwa semangat nasionalisme mampu mengatasi segala tantangan. mengatasi disentegrasi bangsa, dan rongrongan itu berbentuk kolonialisme gaya baru (neokolonialisme) yang berbaju globalisme.

Pemuda hari ini, sebab itu harus mulai mengembangkan jiwa nasionalisme yang berakar pada nilai-nilai luhur budaya bangsa, apa yang kemudian kini popular dengan istilah kearifan local (local wisdom).

Pemuda di masa depan harus mempunyai visi yang kokoh yang bertumbuh pada nilai-nilai luhur bangsa agar tidak terombang-ambin di tengah-tengah masyarakat internasional. Dengan demikian, pemuda memiliki nasionalisme serta rasa kebangsaan yang kuat dan mengakar.

NASIONALISME PEMUDA DAN GLOBALISASI

Ketika proses globalisasi berlangsung, yang di dalamnya juga diikuti proses alih tukar budaya, sebagian pemuda-pemuda kita kini mengalami shock culture, terkooptasi dan terjebak pada pandangan yang mengamini nilai hidup kebebasan.

Tawaran yang diberikan globalisasi seolah-olah menampakkan gaya masyarakat dunia sebagai budaya yang lebih modern. Pemuda kemudian mulai membiasakan diri meninggalkan akar nilai budaya Indonesia. Dari sinilah semangat dan sikap nasionalisme pemuda Indonesia mulai terkikis.

Nasionalisme atau kesadaran berbangsa kaum muda Indonesia inilah yang coba kembali digelorakan pada momentum sumpah pemuda pada tanggal 28 oktober kemarin.

Momentum untuk menjaga kemurnian esensi dan hakikat nasionalisme Indonesia yang paripurna. Nasionalisme menghendaki terjaganya kemurnian nilai-nilai luhur budaya bangsa dan mengembangkannya sebagai benteng dari budaya asing.