Pemuda yang Sehat untuk Indonesia Maju

Dian Lestari Ningsih, arifrahma1808
·Bacaan 4 menit

VIVA – Pemuda merupakan aktor intelektual yang kehadirannya diharapkan mampu membawa suatu perubahan bangsa menuju arah yang lebih baik (agent of change). Inilah alasan mengapa pemuda disebut sebagai generasi penerus bangsa, karena yang menentukan kemajuan bangsa Indonesia di masa depan adalah para generasi mudanya melalui keberhasilan perubahan-perubahan positif yang dapat dilakukan.

Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009, disebutkan bahwa pemuda adalah penduduk yang berusia 16 sampai 30 tahun yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan. Menurut BPS (2019), Indonesia merupakan rumah bagi 64,19 juta jiwa pemuda yang mengisi lebih dari seperempat penduduk Indonesia (25,02 persen). Hal tersebut berarti, satu dari empat penduduk di Indonesia adalah seorang pemuda.

Tentu saja angka tersebut bukanlah jumlah yang kecil dan akan sangat berarti jika diiringi dengan kualitas yang mumpuni, mengingat mereka adalah aktor yang menentukan kemajuan bangsa Indonesia di masa depan.

Keberadaan pemuda semakin bermakna mengingat Indonesia tengah memasuki masa awal bonus demografi yang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tahun 2030. Saat ini, penduduk usia produktif mendominasi komposisi penduduk Indonesia. Momen ini sebaiknya dimanfaatkan dengan mempersiapkan generasi pemuda yang berkualitas, salah satunya dari segi kesehatan.

Pemuda sebagai penggerak utama pembangunan di masayang akan datang harus sehat agar dapat aktif turut serta dalam pembangunan. Oleh karena itu, investasi pada kesehatan pemuda harus menjadi fokus pembangunan nasional untuk menciptakan generasi pemuda yang sehat sebagai modal menuju Indonesia maju.

Menurut WHO, Investasi pada kesehatan pemuda tidak hanya meningkatkan kesehatan pemuda di masa kini tetapi juga menjamin kesehatan mereka di masa mendatang sebagai orang dewasa dan untuk generasi yang akan datang.

Kondisi Kesehatan Pemuda

Pemuda merupakan kelompok penduduk yang diasumsikan berada dalam kondisi jasmani yang prima dan sehat. Padahal, tidak sepenuhnya pemuda bisa terbebas dari kemungkinan terserang penyakit.

Berbagai perilaku berisiko pada usia remaja seperti merokok, gizi tidak seimbang, dan kurang aktivitas fisik dapat menjadi pemicu timbulnya penyakit pada pemuda. Penyakit tersebut pada akhirnya dapat menghambat pemuda untuk mencapai potensi maksimalnya.

Pada tahun 2019, sekitar 1 dari 5 pemuda mengalami keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir. Berdasarkan daerah tempat tinggalnya, pemuda yang tinggal di perdesaan mengalami keluhan kesehatan lebih tinggi dibandingkan di perkotaan (22,18 persen berbanding 20,88 persen). Sementara itu, menurut jenis kelamin, pemuda perempuan mengalami keluhan kesehatan lebih tinggi dibandingkan pemuda laki-laki (23,66 persen berbanding 19,26 persen).

Selain keluhan kesehatan, indikator yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat kesehatan pemuda adalah angka kesakitan. Angka kesakitan merupakan persentase penduduk yang mengalami keluhan atas suatu penyakit yang dirasakan dan bukan atas hasil pemeriksaan dokter atau petugas medis lainnya, dimana keluhan tersebut mengakibatkan terganggunya aktivitas sehari-hari.

Pada tahun 2019, angka kesakitan pemuda Indonesia sekitar 8,78 persen. Jika dikaitkan dengan jumlah keluhan kesehatan yang dialami pemuda, maka kondisi tersebut menjelaskan bahwa dari 100 orang pemuda, sebanyak 20 orang diantaranya mengalami keluhan kesehatan dan 9 orang diantaranya mengalami sakit.

Sama halnya dengan keluhan kesehatan, pemuda yang sakit di perdesaan lebih tinggi dibandingkan di perkotaan (9,86 persen berbanding 8 persen) dan pemuda perempuan yang sakit lebih tinggi dibandingkan pemuda laki-laki (9,72 persen berbanding 7,88 persen).

Perilaku Merokok Pemuda

Salah satu perilaku berisiko yang memiliki prevalensi tinggi di usia muda adalah merokok. Padahal, merokok dapat menstimulasi penyakit kanker, tekanan darah tinggi, jantung, paru-paru, dan bronkitis kronis, dan berbagai penyakit lainnya.

Menurut Erikson (1989), alasan pemuda merokok dapat disebabkan karena kondisi psikososial yang dialami dimana mereka sedang mencari jati diri.

Berdasarkan data BPS pada tahun 2019, sekitar 1 dari 4 orang pemuda merokok tembakau. Apabila dilihat menurut jenis kelamin, sekitar 1 dari 2 pemuda laki-laki merokok. Persentase ini jauh lebih tinggi dibandingkan persentase pemuda perempuan yang merokok (0,64 persen).

Berdasarkan tipe daerah, persentase pemuda di perdesaan yang merokok lebih tinggi dibandingkan pemuda di perkotaan (28,15 persen berbanding 24,42 persen).

Sementara itu, menurut tingkat pendidikan, persentase pemuda merokok paling tinggi terdapat pada pemuda tamatan SD/sederajat (36,79 persen) dan pemuda tidak tamat SD (34,95 persen). Sedangkan, persentase pemuda merokok terendah terdapat pada pemuda tamatan Perguruan Tinggi (15,63 persen).

Hal ini dapat disebabkan karena semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin luas pengetahuan pemuda terkait perilaku hidup sehat (Muller, 2002).

Saran untuk Pemerintah

Melihat fakta yang ada, sudah semestinya pemerintah terus berupaya untuk menekan angka kesakitan pemuda di Indonesia agar mereka bisa mencapai potensi maksimalnya. Pemerintah juga perlu meningkatkan pembangunan dalam bidang kesehatan, terutama yang bertujuan agar semua lapisan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, murah, dan merata baik yang tinggal di wilayah perdesaan maupun perkotaan.

Selain itu, kampanye terkait bahaya merokok juga tetap harus digalakkan, mengingat prevalensi merokok pemuda Indonesia yang cukup tinggi. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan edukasi, advokasi serta sosialisasi bahaya merokok bagi kesehatan melalui berbagai kegiatan literasi. Melalui upaya tersebut, diharapkan akan tercapai derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik.