Pemulihan ekonomi yang menjaga rupiah dari "tapering" Fed

·Bacaan 5 menit

Pemulihan ekonomi Indonesia pada tahun 2021 terus berlangsung, diiringi berbagai data ekonomi yang kian membaik hingga mendekati akhir tahun.

Angka inflasi Indonesia tercatat berada di level 1,75 persen pada bulan November, yang menunjukkan bahwa konsumsi mulai bangkit secara perlahan di tengah proses pemulihan ekonomi yang terjadi.

Indikator aktivitas manufaktur yang tercermin dalam Purchasing Managers' Index (PMI) juga tercatat terus berada di level ekspansif, sehingga mencapai 53,9 pada bulan lalu.

Selain itu, para pelaku pasar merespons positif terkait dengan rencana pemerintah yang membatalkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 menjelang libur Natal dan tahun baru pada akhir tahun ini.

Dengan demikian, aktivitas ekonomi masih dapat berjalan meskipun terdapat beberapa pengetatan untuk menghindari lonjakan kasus seperti pada bulan Juni hingga Juli lalu.

Dengan berbagai data ekonomi Indonesia yang terus menunjukkan akselerasi, diiringi percepatan vaksinasi dan rendahnya laju kasus harian COVID-19, keadaan pasar domestik pun semakin membaik, sehingga berhasil menjaga nilai tukar rupiah dari pengurangan pembelian aset alias tapering bank sentral AS, The Fed.

Di bulan November, rupiah memang kembali melemah terhadap dolar AS sekitar 1,5 persen ke level Rp14.335 per dolar AS, yang lebih disebabkan oleh nada kebijakan Fed yang lebih hawkish, terutama dengan wacana untuk melakukan tapering lebih cepat, serta potensi kenaikan suku bunga lebih cepat pada tahun 2022.

Di sisi lain, adanya kenaikan permintaan dolar AS yang seringkali terjadi pada siklus akhir tahun juga berpotensi menekan pergerakan rupiah.

Namun demikian, pertumbuhan ekonomi diperkirakan terus membaik dengan ekonomi yang berada dalam fase pemulihan, sehingga Wealth Management Head Bank OCBC NISP Juky Mariska memproyeksikan mata uang Garuda akan diperdagangkan di kisaran yang stabil, yakni Rp14.300 - Rp14.550 per dolar AS hingga akhir 2021.

Adapun per 23 Desember 2021, nilai tukar rupiah cenderung terjaga dan ditutup pada level Rp14.233 per dolar AS di pasar spot.

Serangkaian tantangan pada pasar global belakangan ini memang menyebabkan hampir seluruh mata uang negara berkembang terdepresiasi, termasuk rupiah.

Kendati demikian, penurunan mata uang Garuda relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, berkat kuatnya dan terjaganya kondisi perekonomian domestik.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, nilai tukar rupiah terdepresiasi 2,3 persen per 17 Desember 2021, lebih rendah dari rupee India yang terkoreksi 4,1 persen, ringgit Malaysia 5 persen, serta real Brazil 9,4 persen.

Bahkan, beberapa mata uang negara lainnya seperti yen Jepang, baht Thailand, peso Argentina, dan lira Turki terdepresiasi hingga dua sampai tiga digit, yakni masing-masing 10,1 persen, 11,3 persen, 21,2 persen, dan 120,6 persen.

Dinamika pertemuan Fed pada pertengahan Desember ini meningkatkan volatilitas, sehingga sebelum pertemuan, imbal hasil atau yield obligasi AS tenor 10 tahun sempat naik hingga level 1,47 persen dan mempengaruhi beberapa emerging market, termasuk Indonesia.

Implikasinya, premi risiko investasi atau credit default swap (CDS) Indonesia dan rupiah melemah.

Namun, setelah pertemuan Otoritas Moneter AS yang memutuskan tapering dipercepat, suku bunga surat utang Negeri Paman Sam menurun, yang direspons penurunan yield obligasi Indonesia tenor 10 tahun dan melandainya CDS.

Selain kondisi domestik yang berdaya tahan, upaya BI dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah sedikit meningkatnya gejolak pasar akhir-akhir ini juga berkontribusi terhadap terjaganya kurs Garuda.

Bahkan, Ekonom LPEM FEB Universitas Indonesia Teuku Riefky pun memperkirakan kinerja mata uang Garuda akan menjadi yang terbaik di Asia pada tahun ini.

"Pencapaian tersebut didorong oleh kehati-hatian BI dalam menjaga harga domestik dan stabilisasi rupiah serta mendukung agenda pemulihan ekonomi di masa pandemi," kata Riefky.

Bank sentral secara aktif melakukan triple intervention dalam menstabilkan rupiah, melalui intervensi langsung di pasar spot, intervensi dalam pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta melakukan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder sepanjang tahun 2021.

Selain itu, perkembangan penggunaan kerja sama mata uang lokal alias Local Currency Settlement (LCS), dengan agenda promosi investasi dan perdagangan di negara-negara mitra dagang utama Indonesia akan berdampak baik terhadap stabilisasi rupiah ke depannya.

Kondisi stabilnya fundamental Indonesia, terutama dengan terjaganya rupiah, kuatnya cadangan devisa, tingginya yield SBN, dan inflasi yang rendah tersebut tentunya akan mendukung ruang kebijakan moneter dalam mengelola tekanan eksternal, sekaligus mendukung pemulihan relatif kuat.

Pusat Riset Ekonomi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan nilai tukar rupiah akan relatif stabil di antara Rp14.301 per dolar AS sampai Rp14.625 per dolar AS di tahun 2022.

Perkiraan tersebut sejalan dengan target nilai tukar rupiah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2022, yakni di kisaran Rp14.350 per dolar AS dan sasaran BI, yaitu Rp13.833 per dolar AS sampai Rp14.558 per dolar AS.


Stimulus monter

Perhatian pada tahun 2022 adalah seberapa cepat Fed menarik kembali stimulus moneter besar yang diberikan pada tahun 2020, saat masa awal krisis.

The Fed pada pertengahan bulan Desember 2021 memutuskan untuk meningkatkan tapering dari 15 miliar dolar AS pada November 2021 menjadi 30 miliar dolar AS mulai bulan Januari 2022.

Dengan begitu, bank sentral AS tersebut hanya akan membeli obligasi senilai 60 miliar dolar AS setiap bulannya pada tahun depan atau setengah dari pembelian saat pandemi, yakni 120 miliar dolar AS per bulan.

Tapering yang lebih cepat tersebut disebabkan inflasi yang melonjak sangat tinggi di Negeri Paman Sam, yakni hingga 6,8 persen (year on year/yoy) pada November, tertinggi dalam empat dekade terakhir yang didorong melonjaknya permintaan karena pembukaan kembali perekonomian dan gangguan pasokan.

Inflasi di Inggris dan Zona Euro juga tercatat cukup tinggi, yaitu di atas 4 persen (yoy), sebaliknya inflasi di seluruh Asia terlihat lebih tenang.

Meski inflasi AS terus meningkat, Head of Investment Strategy Bank of Singapore Eli Lee memprediksikan yield surat utang Negeri Paman Sam tenor 10 tahun hanya akan naik hingga 1,9 persen selama tahun depan, sehingga masih akan terdapat jarak (spread) yang cukup jauh dengan suku bunga SBN Indonesia.

Data World Government Bonds menunjukkan yield obligasi AS tenor 10 tahun per 23 Desember 2021 berada di level 1,455 persen, sedangkan suku bunga obligasi Indonesia tenor 10 tahun tercatat 6,46 persen.

Dengan demikian, Bank of Singapore mengekspektasikan pertumbuhan global secara keseluruhan akan mendekati 5 persen di tahun 2022, sehingga ekonomi dunia akan berkembang lebih baik dalam dua tahun berturut-turut, jauh lebih cepat dari rata-rata pertumbuhan tahunan 3 persen yang tercatat sejak tahun 1970-an.

Baca juga: Sri Mulyani: Defisit APBN November 2021 turun, menjadi Rp611 triliun
Baca juga: Menko Airlangga: Presidensi G20 tingkatkan kepercayaan investor global
Baca juga: Menkop UKM harapkan PIM tingkatkan kontribusi dalam pemulihan ekonomi

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel