Pemungutan suara mulai ditutup dalam pemilihan presiden AS yang tegang

·Bacaan 4 menit

Washington (AFP) - Berbagai tempat pemungutan suara di negara bagian-negara bagian yang menjadi medan pertempuran AS mulai ditutup Selasa sehingga mendekatkan kontes mempertajam pertarungan antara Presiden Donald Trump dan Joe Biden itu ke kesimpulan yang menegangkan, menyusul pacuan yang diperjuangkan dalam kondisi pandemi global yang belum pernah terjadi sebelumnya dan pemilu paling memecah belah dalam beberapa dekade ini.

Pada pukul 19:00 (07.00 WIB), pemungutan suara berakhir di Indiana, Kentucky, Carolina Selatan, Virginia, Vermont dan juga Georgia, sebuah negara bagian yang dulunya kokoh mendukung Republik namun ingin dibalikkan oleh calon dari Partai Demokrat Biden.

CNN dan NBC telah memproyeksikan kemenangan Trump di Indiana.

Beberapa bagian Florida yang memiliki jatah elektoral yang besar di mana pemilu biasanya berlangsung sangat ketat juga ditutup pada pukul 19:00 waktu setempat. Pemungutan suara di seluruh negara bagian itu dan juga di Pennsylvania yang menjadi titik nol lainnya dalam kontes kepresidenan AS, ditutup pukul 8 malam (08.00 WIB).

Yang tidak diperkirakan segera adalah keputusan definitif apakah Trump mendapatkan masa empat tahun lagi atau Biden melengserkan dia dari Gedung Putih.

Mencegah gangguan di negara bagian-negara bagian penting, mungkin tidak terjadi sampai semua negara bagian suara mengambang telah menghitung surat suaranya, hal yang dalam kasus Pennsylvania bisa dengan gampang menjadi berlarut-larut setidaknya sampai Rabu.

Penghitungan tahun ini diperlambat oleh penggunaan surat suara lewat pos yang belum pernah terjadi sebelumnya sebagai tanggapan terhadap ketakutan akan virus corona. Lebih dari 100 juta warga Amerika telah menyalurkan suaranya sebelum Hari Pemilu.

Trump (74) mengutarakan keyakinannya saat malam semakin dekat dengan mencuit menggunakan semua huruf kapitalnya yang khas, "KITA TERLIHAT BAGUS SEKALI DI SELURUH NEGARA. TERIMA KASIH!"

Dia mengamati hasil yang masuk di Gedung Putih, dikelilingi oleh staf. Tidak jelas apakah dia akan berbicara kepada publik di beberapa titik, tetapi dia mengatakan Selasa pagi bahwa dia belum "memikirkan pidato pengakuan kalah atau pidato kemenangan."

"Menang itu gampang," kata dia. "Kalah tak pernah mudah - tidak bagi saya."

Biden yang tiarap bersama keluarga di rumah di Delaware, juga mengatakan pola pemilih saat ini tampaknya lebih menguntungkan kubunya.

"Yang saya dengar adalah jumlah pemilih yang sangat banyak. Dan jumlah pemilih yang luar biasa terutama dari kaum muda, wanita, dan jumlah pemilih Afrika-Amerika yang luar biasa, terutama di Georgia dan Florida, di atas usia 65 tahun," kata dia kepada wartawan.

"Hal-hal yang tengah terjadi menjadi pertanda baik untuk basis yang telah mendukung saya."

Trump berulang kali menolak memastikan akan menerima hasil pemilu -yang pertama bagi seorang presiden AS. Dia berpandangan tanpa memberikan bukti bahwa sejumlah besar surat suara yang masuk bisa digunakan untuk mencurangi pemungutan suara terhadap dia.

Menjelang akhir Hari Pemilu, Trump fokus terutama kepada Pennsylvania yang memungkinkan penghitungan surat suara lewat pos pada Hari Pemilu sekalipun surat suara itu tiba setelahnya.

"Seluruh dunia sedang menanti," kata Trump Selasa pagi.

"Anda tidak bisa menunda hal-hal ini sampai berhari-hari," kata dia seraya menambahkan dengan nada tidak menyenangkan bahwa "banyak hal buruk" bisa terjadi.

"Seharusnya kita berhak mengetahui siapa yang menang pada 3 November," kata dia.

Namun demikian, dia meredam ketakutan bahwa dia akan berusaha menyatakan kemenangan sebelum waktunya, dengan berkata kepada Fox News bahwa dia hanya akan menyatakan "jika ada kemenangan."

"Tidak ada alasan untuk bermain-main," kata dia.

Rakyat Amerika tidak bisa lebih terpecah atas Trump.

Bagi sejumlah orang, dia merupakan angin segar yang membawa naluri bisnisnya guna mengguncang kaum kemapanan di Washington. Bagi yang lainnya, dia adalah pemimpin korup yang merusak reputasi AS di luar negeri dan memicu sentimen rasis dan nasionalis yang berbahaya di dalam negeri.

Di Miami, Juan Carlos Bertran, seorang mekanik Kuba-Amerika berusia 60 tahun, mengatakan Trump "bagi saya tampaknya lebih bagus bagi okonomi negeri ini."

"Sekarang saya punya dua pekerjaan," kata dia. "Sebelumnya saya hanya punya satu pekerjaan."

Tetapi sambil memberikan suara di New York, Megan Byrnes-Borderan (35) menyatakan ancaman Trump akan menggugat hasil pemilu ke pengadilan adalah "mengerikan."

"Saya yakin Trump akan terus melakukan segala hal demi berusaha memenangkan pemilu," kata dia.

Pemilih New York lainnya, Justin Rodriguez (32) mengatakan dia memilih Biden. "Saya sama sekali tak suka ketegangan," kata dia. "Saya pikir Trump telah membawa ketegangan yang lebih banyak daripada biasanya."

Khawatir akan kerusuhan, para pemilik toko menutup jendela di Washington dan kota-kota besar lainnya.

Biden membidik ketidaksetujuan masyarakat yang kian luas atas caraa Trump menangani pandemi Covid-19 yang sudah merenggut lebih dari 230.000 warga Amerika.

Trump -yang pulih cepat dari pertarungannya sendiri melawan virus corona Oktober - meyakini warga Amerika ingin melupakan krisis dan membuka kembali ekonomi sepenuhnya. Biden, sebaliknya, memberitakan kehati-hatian dan menuduh presiden telah meninggalkan tanggung jawab dasarnya.

"Kita sudah bosan dengan kekacauan! Kita sudah bosan dengan cuitan, kemarahan, kebencian, kegagalan, ketidakbertanggungjawaban," kata Biden pada rapat umum malam pemilu di Cleveland, Ohio.

Ketakutan terhadap Covid-19 mendorong terciptanya arus besar pemungutan suara dini seperti dianjurkan oleh Biden. Trump membalas dengan menggelar puluhan kampanye pemilu massa tanpa mempraktikkan jaga jarak sosial dengan menegaskan pesannya bahwa inilah saatnya untuk jalan terus.

bur-sms/ec