Penari Bugil di Malang: Saya Butuh Uang (2)

TRIBUNNEWS.COM, MALANG - Dua penari bugil atau stripper ditangkap polisi di  tempat hiburan The Loft Entertainment Karaoke and Lounge Malang Town Square (Matos) Jl Veteran Kota Malang. Sebut saja (nama samaran), Yanti (25), dan Shanti (17).

Mereka ditangkap saat sedang beraksi bugil di depan tamunya di sebuah room karaoke. Akibatnya, selain Yanti dan Shanti, maka tiga pengelola tempat karaoke The Loft yakni The Loft, M Nurdin alias Aria (30) selaku marketing manager; Ardi Zuliandi alias Diggoz (41) general manager; dan Roni Teguh Nugroho (30), operational manager telah ditetapkan sebagai tersangka.

Kecurigaan aparat keamanan terkait bisnis tarian eksotik ini berawal dari laporan masyarakat dan warga sekitar. Laporan itu menyebutkan bahwa tempat hiburan yang baru dibuka Juli 2011 ini selain menyediakan sarana untuk karaoke juga menyediakan layanan penari striptease. Berbekal info inilah polisi langsung menggerebek.

Jasa layanan tarian striptease tidak diberikan Nurdin, Diggoz, dan Roni, kepada semua pelanggan. Hanya mereka yang berkantong tebal dan membutuhkan jasa ini yang ditawari.

Caranya, Roni melihat banyaknya minuman keras yang dipesan. Setelah mendapatkan pelanggan ‘the have’, Roni pun melakukan persuasi kepada pelanggan itu, sebelum menawarkan sajian penari telanjang. Begitu pelanggan sudah masuk perangkap, Roni langsung meminta izin kepada Diggoz untuk memanggil kedua penari. Setelah izin keluar, Roni langsung menyampaikannya kepada Aria.

Peran Aria adalah sebagai orang yang mendatangkan penari telanjang. Untuk tarif, Aria mematok Rp 600.000 per jam bagi masing-masing penari. Dari tarif ini, Rp 500.000 diberikan kepada penari, dan sisanya masuk kantong pengelola The Loft.

Saat diringkus, Yanti mengaku baru menari satu kali. Sedangkan Santi yang lebih yunior dua kali. The Loft, bagi mereka, adalah debut menerjuni gemerlap dunia malam.

Kepada petugas yang memeriksanya, kedua penari mengaku terpaksa melakukan pekerjaan ini karena faktor ekonomi. Hidup tanpa keahlian, membuat mereka terpaksa menjalani pekerjaan memuaskan para hidung belang. “Saya butuh uang. Kalau disinggung apakah saya punya keahlian menari, saya tidak punya,” kata Santi, gadis bertubuh ramping ini di depan penyidik.

Saat beraksi, mereka tidak terpatok pada jenis musik tertentu. Di depan pelanggan, mereka harus berlaku profesional dalam memuaskan tamu. Jika tamu kebetulan menyukai musik dangdut, maka mereka harus fasih dalam bergoyang dangdut mengikuti alunan musik. Sebaliknya, jika tamu menyukai disko, Yanti dan Santi pun meladeninya. “Semua yang kami lakukan adalah atas permintaan pelanggan,” kata Santi yang juga diiyakan oleh Yanti.

Selama ini, kata Santi, belum ada pelanggan yang menjahili. Juga belum ada pelanggan yang minta layanan plus-plus.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.