Penasihat Hukum Bharada E Minta Pihak META Dihadirkan di Sidang

Merdeka.com - Merdeka.com - Penasihat Hukum terdakwa Richard Eliezer alias Bharad E, Ronny Talapessy meminta kepada majelis hakim untuk bisa menghadirkan perwakilan dari perusahaan META sebagai pengelola aplikasi pesan Whatsapp di persidangan perkara dugaan pembunuhan berencana, Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Permintaan itu disampaikan Ronny, ketika sesi pemeriksaan saksi terhadap Legal Counsel pada provider PT. XL AXIATA, Viktor Kamang yang ditanya perihal isi pesan dalam aplikasi Whatsapp untuk bisa diungkap dalam persidangan.

"Ada sebagai legal, bisa jelasin ke kami terkait dengan aturan undang-undang Whatsapp yang tidak bisa ambil. Dasarnya apa dari aturan yang ada Kominfo?" tanya Ronny saat sidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Senin (7/11).

Lantas dijawab Viktor bahwa pihaknya selaku provider tidak bisa untuk mengambil data dari aplikasi tersebut. Karena pihaknya hanya bisa merekam data call data record (CDR) yang dilakukan dari setiap nomor ponsel.

"Perusahaannya Pak. Karena kami tidak simpan storage dari pada mereka itu, dan tidak terecord di sistem kita. Yang kami record di sistem itu, jadi untuk telekomunikasi yang kami record itu hanya yang untuk kami delay, kami tagihkan sesuai dengan UU Konsumen dan UU Telekomunikasi," kata Viktor.

"Jadi kami harus bisa buktikan kepada konsumen bahwa kami memotong sekian karena misalnya ada panggilan telepon atau sms. Sedangkan kalau untuk WA, dia itu internet," tambah Viktor.

Karena tidak bisa memberikan data tersebut, lantas Ronny menanyakan kepada Viktor pihak mana yang bisa memberikan data percakapan dalam aplikasi Whatsapp. Lantas, diarahkan untuk meminta kepada pihak META.

"Sepengetahuan saudara, sebagai legal di XL tahu gak WA itu perusahaannya apa? Meta?" tanya Ronny.

" Facebook," jawab Viktor.

"Meta ya?" cecar Ronny.

"Iya," singkat Viktor.

"Ada perusahaannya di Indonesia?" tanya kembali Ronny.

"Setahu saya ada," kata Viktor.

"Jadi kalau kami minta data tersebut dihadirkan di persidangan, bisa meminta ke perusahaan itu?" kata Ronny.

"Iya," singkat Viktor.

Mendengar jawaban itu, Ronny kemudian meminta kepada majelis hakim untuk bisa menghadirkan pihak META selaku pengelola aplikasi pesan singkat Whatsapp agar diperiksa di persidangan.

"Baik majelis kami minta memohon untuk dihadirkan perusahaannya," pinta Ronny.

"Kita periksa saksi dulu, kalau cukup waktu kita akan hadirkan," ujar Hakim Ketua Wahyu Iman Santosa.

Adapun secara terpisah usai sidang, Ronny menjelaskan jika pihaknya ingin membongkar data percakapan dalam aplikasi Whatsapp. Karena, dari dari CDR pada tanggal 8 tidak ditemukan adanya percakapan telepon atau sms dari kliennya.

"Terus kita menanyakan perihal Whatsapp, perusahaan mana yang punya kompeten untuk memberikan data tersebut. Yaitu disampaikan adalah dari perusahaan Facebook atau META ya tadi disampaikan, kita sudah mohonkan kepada majelis hakim agar dipertimbangkan untuk dihadirkan," jelasnya.

Sekedar informasi jika Viktor adalah sosok perwakilan dari provider yang kala itu sempat diminta penyidik menyerahkan data percakapan Brigadir J, Putri Candrawathi, Bharada E alias Richard Eliezer, Susi, Ricky Rizal, dan Kuat Maruf.

Dia dihadirkan bersamaan dengan empat saksi lainnya yakni Petugas Swab di Smart Co Lab, Nevi Afrilia; Petugas Swab di Smart Co Lab, Ishbah Azka Tilawah; sopir ambulans, Ahmad Syahrul Ramadhan; dan Provider PT Telekomunikasi Selular bagian officer security and Tech Compliance Support, Bimantara Jayadiputro.

Dakwaan Pembunuhan Berencana

Dalam perkara ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah mendakwa total lima tersangka yakni, Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer alias Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan Kuat Maruf.

Mereka didakwa turut secara bersama-sama terlibat dengan perkara pembunuhan berencana bersama-sama untuk merencanakan penembakan pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Komplek Polri Duren Tiga No. 46, Jakarta Selatan.

"Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain," ujar jaksa saat dalam surat dakwaan.

Atas perbuatannya, kelima terdakwa didakwa sebagaimana terancam Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP yang menjerat dengan hukuman maksimal mencapai hukuman mati.

Sedangkan hanya terdakwa Ferdy Sambo yang turut didakwa secara kumulatif atas perkara dugaan obstruction of justice (OOJ) untuk menghilangkan jejak pembunuhan berencana.

Atas hal tersebut, mereka didakwa melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 dan/atau Pasal 48 ayat (1) juncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 221 ayat (1) ke 2 dan 233 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan/atau Pasal 56 KUHP.

"Timbul niat untuk menutupi fakta kejadian sebenarnya dan berupaya untuk mengaburkan tindak pidana yang telah terjadi," sebut Jaksa. [fik]