Pencapaianku sebagai Penulis Tak Lepas dari Peran dan Senyuman Ibu

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita di balik setiap senyuman, terutama senyuman seorang ibu. Dalam hidup, kita pasti punya cerita yang berkesan tentang ibu kita tercinta. Bagi yang saat ini sudah menjadi ibu, kita pun punya pengalaman tersendiri terkait senyuman yang kita berikan untuk orang-orang tersayang kita. Menceritakan sosok ibu selalu menghadirkan sesuatu yang istimewa di hati kita bersama. Seperti tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba Cerita Senyum Ibu berikut ini.

***

Oleh: Pretty A.W.

Ibuku adalah sosok yang ambisius. Sedari kecil Ibu sering mengikutkanku di berbagai macam kompetisi yang aku sendiri tidak mengerti tentangnya. Aku mengikuti kompetisi menggambar, menari, model, akting, tapi tidak satu pun yang berhasil menjadi juara. Namun, Ibu tidak pernah kecewa.

Ibu terus menyalurkan ilmu padaku. Setelah masuk sekolah dasar, Ibu lebih banyak membelikanku buku-buku yang ceritanya menarik dan gambarnya apik. Dari buku-buku itu keinginanku menjadi penulis terpupuk hingga ketika dewasa aku benar-benar berhasil meraihnya.

Awalnya cita-cita ini tidak disetujui oleh Ibu. Ibu menganggap aku tidak akan menghasilkan apa-apa dari menulis. Sebaiknya aku menjadi PNS atau karyawan BUMN, hidupku pasti lebih terjamin. Namun, aku tetap berdiri pada jalanku. Aku jadi sosok ambisius yang lebih gila lagi mengikuti kompetisi menulis. Kalah dan menang sudah pernah kurasakan senang dan pahitnya. Kekalahannya lebih banyak dibandingkan menangnya, tapi aku tidak pernah kapok. Apalagi informasi lomba menulis sekarang sangat mudah didapatkan dengan bantuan internet.

Puncaknya ketika di tahun 2015 lalu aku mendapatkan kesempatan ke Korea Selatan gratis karena meraih juara 1 dalam lomba menulis. Orang yang pertama kukabari tentu adalah Ibu. Itu pertama kalinya aku melihat senyuman Ibu yang begitu lebar dengan gigi yang nampak dan mata yang berbinar seperti memantulkan bintang-bintang. Ibu ikut berbahagia karena aku mendapatkan sesuatu yang besar dari profesiku sebagai penulis. Ibu memberikan selamat berkali-kali padaku.

Aku akan Berjuang Mengabulkan Cita-Cita Ibu

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/KomootP
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/KomootP

“Kamu memang pantang menyerah dan ambisius.”

“Aku jadi ambisius kan karena Ibu.”

“Masa?”

Aku terkejut ternyata Ibu tidak menyadari arahan yang Ibu berikan padaku dulu memengaruhi jalan hidup yang aku ambil hingga saat ini. Aku menemukan apa yang aku sukai dari buku-buku yang diberikan Ibu. Aku jadi sering mengikuti lomba menulis karena Ibu yang rajin mendaftarkanku di lomba ini dan itu.

“Kalau saja Ibu lebih rajin, mungkin Ibu bisa seperti kamu.”

Tampak ada segurat penyesalan yang hadir di mata Ibu. Aku kemudian menghiburnya, sekarang adalah waktu yang tepat untuk melanjutkan cita-cita yang tertunda. Semuanya masih bisa dilakukan dari awal, tidak masalah soal umur. Selama ada kemauan, aku meyakinkan Ibu bisa meraihnya juga. Lalu, aku pun menanyakan apa cita-cita Ibu.

Jawaban dari Ibu sukses membuatku menangis seharian. Ternyata cita-cita Ibu adalah melihatku selalu berbahagia. Kalau begitu aku akan berusaha mengabulkan cita-cita Ibu dengan terus meraih prestasi yang dulu tidak sempat dicecapnya. Semua penghargaan yang aku dapatkan aku berikan pada Ibu. Senyuman Ibu yang membuatku tidak pernah pantang menyerah untuk meraih semua keinginanku. Sekarang aku sedang dalam perjalanan meraih cita-cita baru. Tunggu Ibu, aku akan membuat senyumanmu hadir kembali di depan mataku.

#ChangeMaker