Pencurian kode dengan alat elektronik: Skandal dua dasawarsa lalu di Jepang

TOKYO (AP) - Jika ada yang berpikir bahwa penggunaan teknologi untuk mencuri kode para penangkap (catcher) dalam permainan baseball hanya akan merusak Major League Baseball dan Houston Astros - atau itu sesuatu yang baru - pikirkan lagi.

Jepang mengalami skandal serupa lebih dari 20 tahun yang lalu. Orang Jepang memuja bisbol sama besarnya seperti orang Amerika dan telah melewati garis tipis yang sama antara permainan dan kecurangan.

Dalam skandal yang banyak dibahas pada tahun 1998, sebuah kamera di Fukuoka Dome ditemukan difokuskan pada catcher. Pejabat Daiei Hawks - sekarang SoftBank Hawks - dilaporkan memantau kode-kode itu dan menyampaikannya dengan walkie-talkie kepada para penggemar di tribun, yang kemudian mengirim kode ke pemukul (batter) untuk menunjukkan lemparan yang akan dilakukan.

Tidak ada yang bisa aksi memukul-mukul tong sampah, seperti yang dilakukan Astros. Sebaliknya, seorang penggemar akan memegang megafon di depan tubuh mereka untuk menunjukkan, katakanlah, bola cepat. Memegangnya ke kanan berarti lemparan melengkung. Di sebelah kiri adalah, katakanlah, lemparan change-up atau lemparan bola lambat dengan gerakan tangan seolah-olah melakukan lemparan bola cepat.

Penyelidikan dalam kasus baseball Jepang tidak menemukan kesalahan oleh Hawks, yang pada saat itu dikelola pemain home-run Sadahara Oh. Dia tidak terlibat langsung.

Suatu peraturan yang mulai berlaku pada waktu itu adalah menjadikan kegiatan mencuri kode secara elektronik sebagai sesuatu yang ilegal.

"Komite itu menyepakati tanggapan bahwa mereka tidak dapat yakin," kata Marty Kuehnert, seorang Amerika yang merupakan satu-satunya orang asing yang pernah menjadi manajer umum bisbol profesional Jepang, kepada Associated Press dalam sebuah wawancara. "Kebanyakan percaya mereka curang. Tidak ada hukuman dan tidak ada yang terbukti - atau mereka mengatakan tidak ada yang terbukti. "

Kuehnert telah bekerja di bidang olahraga di Jepang selama lebih dari 40 tahun. Dia ditunjuk sebagai Manajer Umum Rakuten Eagles ketika tim ekspansi mulai bermain pada tahun 2005. Dia dipecat selama musim pertama ketika tim mengalami kesulitan yang mirip "dengan Mets 1962" dan kalah 11 kali. Dia sekarang bergabung dengan Sendai 89ers, tim basket dari Jepang utara.

Skandal Astros tidak mendapat banyak perhatian di Jepang, meskipun sebagian telah mengeluarkan pitcher (pelempar) Jepang Yu Darvish. Darvish memulai dua pertandingan - termasuk pertandingan ke-7 - melawan Astros di Seri Dunia 2017.

Seorang pejabat di Nippon Professional Baseball - setara dengan MLB - mengatakan pencurian kode elektronik bukan masalah di liga. Pejabat itu, yang menolak disebutkan namanya karena tidak berwenang berbicara, menawarkan sedikit informasi tambahan.

Kuehnert mengatakan dia tidak lagi berurusan dengan baseball setiap hari, tetapi mencurigai beberapa kecurangan masih terjadi.

"Jika ada kegagalan di sini, itu hanya akan terjadi pada orang-orang yang terlibat dengan, mungkin, melakukan hal yang sama dan membuat mereka mempertimbangkan kembali apa yang mereka lakukan, atau bagaimana mereka melakukannya, atau bagaimana mereka akan terus melakukan itu,"kata Kuehnert.

Dia mengatakan sedikit orang mungkin yang terkejut dengan apa yang terjadi di Houston; karena pencurian kode sudah terjadi selama kemunculan baseball.

"Saya pikir yang mengejutkan adalah betapa kuno sistem itu, yaitu memukul tong sampah," katanya. "Maksud saya. itu hampir menggelikan cara mereka melakukannya. "

Aib baseball terbesar di Jepang adalah "Skandal Kabut Hitam," yang terjadi terutama pada tahun 1969-70 dan membuat hampir selusin pemain dicekal karena mengatur hasil permainan.

Dan lebih dari empat tahun yang lalu seorang pitcher yang bermain untuk Yomiuri Giants - tim paling populer Jepang - ditangguhkan karena bertaruh pada permainan. Tidak ada kecurigaan dia mengatur hasil permainan.

Di Korea Selatan, Organisasi Baseball Korea menggunakan pemutaran ulang video untuk memutuskan keputusan mendesak. Tetapi manajer tidak dapat menggunakan monitor TV untuk memutuskan untuk menantang. Mereka harus menggunakan intuisi, bukan perangkat elektronik. Ruang duduk pemain yang memiliki monitor TV seharusnya difokuskan hanya pada menonton pitcher bersiap-siap.

Pada tahun 2018, LG Twins didenda 20 juta won ($ 17.250) karena memasang selembar kertas di dinding di samping ruang duduk pemain di tepi lapangan yang mencantumkan kode-kode para penangkap (catcher) Kia Tigers. Pejabat KBO mengatakan bahwa Twins adalah satu-satunya tim yang pernah didisiplinkan karena mencuri kode. Twins mengatakan bahwa kode itu tidak dimaksudkan untuk membantu pemukul.

KBO juga mendenda manajer Twins Ryu Joong-il dan dua pelatih pada tahun 2018 karena kasus pencurian.