Pendapa Kepatihan Mangkunegaran Bekas Kantor Radio Amatir Pribumi Pertama Dibongkar

Merdeka.com - Merdeka.com - Pendapa Kepatihan Mangkunegaran yang berada di Jalan Ronggowarsito, Kelurahan Timuran, Banjarsari, Solo dibongkar. Kini bangunan bersejarah tersebut rata dengan tanah. Pembongkaran dilakukan beberapa waktu, diduga lokasi tersebut akan dibangun menjadi penginapan oleh pemiliknya.

Pantauan di lokasi, Kamis (12/1), tampak puluhan pondasi yang baru selesai dibuat. Salah seorang warga yang pernah menempati lokasi tersebut mengatakan, rencananya sang pemilik ingin meninggikan pondasi pendapa.

"Dengar-dengar pondasi pendapa mau ditinggikan," ujar warga yang enggan disebutkan namanya.

Saat disinggung mengenai bangunan pendapa yang hilang, ia tidak mengetahui kapan bagian itu dibongkar. Namun ia menyebut jika bangunan pendapa berstatus bangunan cagar budaya.

"Pendapanya sudah dibongkar. Padahal ada plakatnya cagar budaya. Dulu letaknya ada di depan pendapa bagian sisi timur," katanya.

Menurut dia, sebelum direnovasi, beberapa waktu lalu ada pemberian ganti rugi kepada 30 kepala keluarga yang tinggal di sana. Mayoritas KK yang menerima ganti rugi ini memiliki hunian kecil. Mereka mendapat ganti rugi Rp30 juta untuk luasan tanah 200 meter.

"Sebelum dikosongkan ada ganti rugi dari pemiliknya. Kalau keluarga saya dapat ganti ke Mojosongo dan uang Rp30 juta. Setelah warga sudah pindah sepertinya baru dibongkar," terangnya.

Lokasi bangunan yang juga sering disebut Dalem Tumenggungan ini juga pernah digunakan sebagai gedung taman Taman Kanak Kanak (TK) sejak 1943 hingga 2014.

Selain itu juga digunakan sebagai lokasi berdirinya radio amatir milik pribumi pertama di Indonesia oleh Mangkunegara VII dan koleganya pada 1 April 1933, yakni Solo Radio Vereening (SRV) yabg mengudara pada 5 Januari 1934.

Ditemui terpisah, KGPAA Mangkunegara X, menyampaikan, pihaknya akan memantau bersama Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka.

"Nanti sama mas wali dan Pemkot Solo, bagaimana kondisinya saat ini kira-kira seperti apa, kami pantau lagi," katanya.

Pria yang akrab disapa Gusti Bhre itu menyampaikan, pengelolaan pendapa dan lingkungannya dilakukan oleh pihak lain.

"Ini harus kita pantau. Kita akan bahas lebih lanjut lagi bersama Pemkot Solo dan cagar budaya," terang Bhre.

Bhre mengaku belum bisa berbicara banyak karena baru saja terjadi dan dirinya baru tahu melalui informasi tersebut.

"Sikap atau apapun itu setelah situasinya lebih jelas. Itu kita lihat dari cagar budaya. Saya belum bisa bicara terlalu banyak karena belum melihat kondisinya. Kita lihat dulu seperti apa, kita lihat nanti," pungkasnya. [cob]