BUMI Bukukan Pendapatan Operasional 2020 US$230,3 Juta

·Bacaan 2 menit

VIVA – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengumumkan pendapatan perseroan pada tahun 2020 secara konsolidasi tercatat mencapai US$3,68 miliar. Capaian itu turun sekitar 21 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$4,65 miliar.

Director & Corporate Secretary BUMI Dileep Srivastava menjelaskan, kinerja keuangan itu terjadi di tengah kondisi pandemi COVID-19 yang menantang. Saat pandemi, harga penjualan rata-rata lebih rendah 14 persen dan volume penjualan yang lebih rendah 7 persen.

Meski dalam kondisi tertekan, BUMI tetap mencatatkan pendapatan operasional sebesar US$230,3 juta dan margin usaha sebesar 6,3 persen dibandingkan capaian tahun 2019 yang sekitar 9,1 persen.

"Berkat pengendalian biaya yang ketat dan menjaga produksi mendekati normal meski dalam kondisi yang menantang ini," kata Dileep dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 18 Mei 2021.

Namun demikian, Dileep juga mengakui bahwa perusahaan mencatatkan rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebagai dampak pandemi. Kerugian terjadi akibat volume atau harga yang lebih rendah, dan beban bunga termasuk kapitalisasi pada restrukturisasi utang.

"Kemudian penurunan nilai aset dalam eksplorasi akibat pandemi COVID-19," ujar Dileep.

Meskipun sektor saat ini masih dalam kondisi tertekan, Dileep memastikan bahwa perseroan tetap berhasil mencatatkan pendapatan operasional sebesar US$230,3 juta.

Beban pokok penjualan turun menjadi US$3,2 miliar dibandingkan tahun 2019, yang mencapai US$4 miliar. Hal itu dinilai sejalan dengan penurunan unit beban pokok penjualan sebesar 13 persen menjadi US$39,8 per ton untuk 81,5MT, dibandingkan dengan tahun 2019 yang mencapai US$45,6 per ton untuk 87,7MT.

Selain itu, lanjut Dileep, Closing Inventory juga mengalami penurunan sebesar 30 persen menjadi 2,2 MT pada akhir 2020, dibandingkan dengan periode 2019 yang mencapai 3,2 MT. Dileep mengatakan, hal ini mencerminkan optimalisasi modal kerja. Di sisi lain, pembayaran sebesar US$341,7 juta atas utang pokok dan bunga Tranche A juga telah dibayarkan hingga April 2021.

Dileep menambahkan, tidak dapat dipungkiri bahwa dampak pandemi COVID-19 telah sangat bepengaruh pada kinerja sektor di tahun 2020 lalu. Namun, sinyal pemulihan di sektor batu bara diakuinya juga sudah mulai terlihat dan berlanjut pada kuartal pertama tahun 2021 ini.

"Dengan kembalinya optimisme sektor dan tren kenaikan harga batu bara, perseroan berharap dapat meningkatkan kinerja yang signifikan di sepanjang tahun 2021," ujarnya.