Pendekatan Psikologis dan Keyakinan Sang Pasien Jadi Kunci Sembuh dari Covid-19

Liputan6.com, Medan - Tenaga kesehatan di rumah sakit berperan penting dalam menangani pasien COVID-19. Upaya mereka sebagai benteng terakhir tidak sekadar langkah medis, melainkan hingga melakukan pendekatan psikologis terhadap pasien.

Kepala Rumah Sakit Darurat COVID-19 Martha Friska, dr Fransiscus Ginting mengatakan, pasien COVID-19 atau Pasien Dalam Pengawasan (PDP) adalah orang yang diberangkatkan dari rumah oleh keluarganya.

Keluarga tidak boleh masuk ke rumah sakit, dan hanya menunggu di rumah.

"Apakah mereka akan berkumpul kembali atau di penguburan? Ini masalah berat bagi pasien dan keluarga," kata Fransiscus melalui sambungan video, Rabu (29/4/2020).

Kemudian pasien diisolasi dengan kondisi ketakutan serta merasa sendiri. Sehingga yang bersangkutan harus dipacu untuk bisa percaya diri dan yakin dirinya dirawat, diperhatikan dan dicintai dengan baik, sebagai kunci menanamkan keyakinan sang pasien.

Apabila status sosial dan psikis pasien jatuh, maka secara ilmiah sistem imun responnya jelek dan akan membahayakan semua. Obat tidak akan bekerja banyak apabila pasien tidak yakin.

"Sehingga metode yang saya kemukakan di sini adalah langsung berinteraksi dan bercerita dengan pasien," ungkapnya.

Fransiscus mengaku tidak segan mengajak pasien berstatus PDP hingga positif COVID-19 untuk bercerita, berolahraga hingga bermain tinju, meskipun sempat muncul komentar bahwa apa yang dilakukannya itu sudah seperti orang gila.

"Karena memang harus gila melawan virus yang gila ini. Bahkan saya duduk dengan pasien hingga setengah jam," sebutnya.

Target Zero Mortality

Sejauh ini sudah 8 pasien positif virus Corona COVID-19 yang telah dinyatakan sembuh. Pada hari ini, Selasa (7/4/2020), 6 pasien sembuh dipulangkan.

Diakui Fransiscus, upaya itu dijalankannya untuk mencapai target zero mortality (nihil yang meninggal).

Semua upaya harus dijalankan maksimal, mulai dari pengobatan utama sampai melakukan pendekatan emosional kepada pasien.

"Tetapi kalau kita tidak maksimal, akan jadi pertanyaan, apakah karena kelalaian kita?" ujarnya.

Fransiscus meyakini, upaya tersebut tidak dilakukan sendiri. Dirinya juga meyakini dokter dan tenaga medis di rumah sakit khusus COVID-19 akan aman dengan Alat Pelindung Diri (APD) yang benar.

"Pemberian obat-obatan itu merupakan hal yang standar. Pendekatannya harus emosional. Makanya saya juga melayani dengan gembira," tandasnya.

Saksikan juga video pilihan berikut: