Pendiri Lesbumi NU Usmar Ismail Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Usmar Ismail, pendiri, Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU) dianugerahi gelar pahlawan nasional tahun 2021 ini. Anugerah akan diberikan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Bogor pada 10 November 2021.

Ketua Pengurus Pusat (PP) Lesbumi NU KH M Jadul Maula, bersyukur atas gelar pahlawan nasional yang diberikan kepada Muassis Lesbumi NU, Usmar Ismail. Sebagai wujud syukur dan penghargaan kepada Usmar Ismail, Lesbumi NU menyelenggarakan konser 'Ya Lal Wathan' di Pesantren Budaya Kaliopak Yogyakarta.

"Kami mendengar hari ini, Usmar Ismail diangkat menjadi pahlawan nasional. Ini suatu anugerah. Kami bersyukur, dan sebagai ucapan berterima kasih kepada pemerintah, Lesbumi NU menyelenggarakan konser Ya Lal Wathan, konser ini kita hadiahkan kepada Usmar Ismail sebagai muassis, pendiri dan Ketua Lesbumi pertama,” kata Kiai Jadul yang juga Pengasuh Pesantren Budaya Kaliopak Yogyakarta.

Disampaikan, konser tersebut dilangsungkan pada acara penutupan rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas IV) Lesbumi NU Jadi Badan Otonom (Banom), Kamis-Jumat (28-29/10/2021) kemarin. Rakornas Lesbumi NU merupakan forum musyawarah tertinggi yang membahas keorganisasian, fikih kebudayaan dan gerakan kebijakan kebudayaan yakni Saptawikrama.

Dijelaskan, penetapan anugerah gelar pahlawan kepada Usmar Ismail bertepatan dengan momentum penutupan Rakornas Lesbumi NU dan Puncak Hari Santri 2021. Hal tersebut menjadi hadiah istimewa bagi Lesbumi NU.

"Ini momentum yang tepat selain memberi semangat berkarya, spirit saptawikrama kepada seluruh punggawa Lesbumi juga kesemua warga Nahdliyin dalam menyongsong semangat Muktamar ke-34 NU, pada 23-25 Desember 2021, di Provinsi Lampung.” katanya.

Dijelaskan, Usmar Ismail telah berjasa dalam membangun karakter nasional di dalam perfilman tanah air. Tokoh yang dijuluki Bapak Perfilman itu juga telah menanamkan spirit karakter budaya bangsa. Hal itulah yang menjadi komitmen Lesbumi NU untuk terus berkarya.

“Jadi konser Ya Lal Wathan sebenarnya ungkapan nasionalisme dengan aransemen perpaduan musik klasik barat, terbang, hadrah dan gamelan Jawa. Ini melambangkan satu universalisme. Nasionalisme kita bukan chauvinism, tapi nasionalisme yang multikultural, dialog lintas peradaban untuk harmoni perdamaian,” tegasnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Usmar Ismail Bapak Perfilman Indonesia

Rakornas Lesbumi NU. (Foto: Liputan6.com/Dok. Lesbumi)
Rakornas Lesbumi NU. (Foto: Liputan6.com/Dok. Lesbumi)

NUpedia melansir, Usmar Ismail lahir di Bukittinggi pada 20 Maret 1921. Ia merupakan seorang wartawan, sastrawan, dan sineas terkemuka negeri ini. Bersama Asrul Sani, Djamaludin Malik, Usmar Ismail mendirikan Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama, dirinya pun didaulat sebagai Ketua Lesbumi NU pertama (1962-1967), sebelumnya ia menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 1947 dan Anggota DPR-GR/MPRS mewakili NU pada 1966-1969.

Usmar Ismail merintis perkembangan film Indonesia dengan mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) pada 30 Maret 1950. Darah dan Doa merupakan film pertama besutan anak bangsa sekaligus karya Garapan Perfini pertama. Karyanya ini menjadi tonggak sejarah perfilman Indonesia sehingga tak salah Usmar Ismail mendapat julukan Bapak Perfilman Indonesia.

Usmar Ismail menempuh pendidikan formal di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) tingkat dasar di Batu Sangkar. Kemudian dilanjut di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Padang dan Algemene Middlebere School (AMS) di Yogyakarta pada 1940-an. Setelah itu, ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas California, Los Angeles, Amerika Serikat.

Usmar mengambil studi sinematografi. Hal itu membuatnya semakin kaya dengan pengetahuan dan pengalaman mengenai perfilman. Satu dekade pasca pendirian Perfini, karyanya merambah dunia internasional. Film berjudul Perjuangan mendapat anugerah sebagai film terbaik dalam Festival Film Moskow 1961.

Perlu diketahui, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD telah mengumumkan pemberian gelar pahlawan nasional kepada empat tokoh, selain Usmar Ismail, ada Tombolatutu dari Sulawesi Tengah, Sultan Haji Muhammad Idris dari Kalimantan Timur, dan Raden Ayra Wangsakara. “Itu pahlawan nasional yang nanti akan diserahkan kepada keluarga almarhum di Istana Bogor, pada Hari Pahlawan 10 November 2021,” kata Mahfud melalui konferensi pers yang disiarkan langsung melalui Kanal Youtube Kemenko Polhukam, pada Kamis (28/10/2021).

Dijelaskan, keputusan itu diberikan kepada Usmar Ismail dan ketiga tokoh lainnya karena menginspirasi untuk membangun Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Juga ikut berjuang untuk memajukan Indonesia sehingga kemerdekaan itu lebih bermakna.

Penulis: Imam Hamidi Antassalam (Sekretaris PC Lesbumi NU Cilacap)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel