Pendiri Teater Koma Nano Riantiarno Meninggal Dunia

Merdeka.com - Merdeka.com - Pendiri Teater Indonesia, Koma Norbertus Riantiarno atau akrab disapa Nano Riantiarno meninggal dunia hari ini, Jumat (20/1) pukul 06.58 WIB. Dia mengembuskan napas terakhir pada umur ke-73 tahun.

Kabar duka tersebut dibagikan oleh Teater Koma dan dikonfirmasi oleh aktris Jajang C. Noer. Jajang mengatakan dirinya mendapat kabar meninggalnya Nano melalui Sari Madjid, adik dari ipar Nano.

"Saya ada di Klaten mau syuting. Enggak tahu jam berapa (kabar duka sampai ke Jajang). Yang kasih tahu itu adiknya Ratna (istri Nano), Sari Madjid," kata Jajang, Jumat (20/1).

Jajang turut menyampaikan duka cita atas kepergian Nano. Jajang sendiri merupakan salah satu pendiri Teater Koma.

Di mata Jajang, Nano merupakan sosok yang baik tidak hanya kepada orang-orang terdekatnya tetapi juga kepada semua orang.

"Nano itu seorang budayawan, juga tokoh teater. Dan lebih dari itu, seorang kawan baik untuk kawan-kawannya termasuk saya, untuk murid-muridnya, anggota Teater Koma. Dia selalu terbuka untuk mengajarkan tentang teater kepada siapa saja dan juga kawan baiknya mas Arifin," kata Jajang.

Belum Diketahui Penyebab Nano Meninggal Dunia

Belum ada konfirmasi penyebab Nano meninggal dunia dari pihak keluarga. Namun, diketahui Nano sempat menjalani rawat inap di Rumah Sakit Kanker Dharmais.

Jajang mengatakan dirinya sempat menjenguk Nano satu hari sebelum berangkat syuting ke Klaten.

"Ya, waktu itu masih pakai oksigen, ya, di kamar rawat biasa. Tapi, ya, masih pakai oksigen. [Saya duduk] cuma dari kaki tempat tidur saja, saya pegang kakinya, itu saja enggak bisa dipeluk," kata Jajang, dilansir dari Antara.

Nano dikenal sebagai tokoh teater di Indonesia. Dia mendirikan Teater Koma pada 1977 dan hingga kini kelompok teater tersebut masih aktif mementaskan pertunjukan.

Nano menulis sebagian besar karya panggungnya, di antaranya seperti 'Rumah Kertas', trilogi 'Opera Kecoa', 'Sampek Engtay', dan 'Opera Sembelit'.

Selain naskah drama, Nano juga menulis skenario film dan televisi seperti ' Jakarta Jakarta' (1977) serta menulis novel seperti 'Cermin Merah', 'Cermin Bening', dan 'Cermin Cinta'. [tin]