Pendudukan Taliban Picu Kekacauan di Bandara Kabul, Bayi 7 Bulan Terpisah dari Orangtua

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Kabul - Berkuasanya Taliban atas ibu kota Afghanistan, Kabul, membuat penduduk panik dan putus asa serta berebut meninggalkan negara itu dan memicu krisis pengungsi besar.

Tragedi mengerikan muncul dari Kabul sejak Taliban mengambil alih, seperti dilansir dari India Times, Kamis (19/8/2021).

Ratusan orang berusaha melarikan diri dengan mengepung pesawat yang sedang berhenti di bandara Kabul. Menimbulkan keributan dan kekacauan ketika orang-orang mencoba naik ke penerbangan terakhir untuk meninggalkan Kabul sebelum bandara ditutup.

Di samping kerusuhan itu, ada seorang bayi terpisah dari orang tuanya pada 17 Agustus, berdasarkan laporan kantor berita Asvaka di Twitter.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Menunggu Orangtuanya Menjemput

Ratusan orang berlari di samping pesawat angkut C-17 Angkatan Udara AS di landasan bandara internasional, di Kabul, Afghanistan (16/8/2021).  Ratusan warga Afghanistan berusaha kabur dari negaranya. Hal ini terjadi usai pemberontak Taliban menduduki ibu kota Afghanistan. (Verified UGC via AP)
Ratusan orang berlari di samping pesawat angkut C-17 Angkatan Udara AS di landasan bandara internasional, di Kabul, Afghanistan (16/8/2021). Ratusan warga Afghanistan berusaha kabur dari negaranya. Hal ini terjadi usai pemberontak Taliban menduduki ibu kota Afghanistan. (Verified UGC via AP)

Anak yang diketahui tidak lebih dari tujuh bulan itu, kini menunggu untuk bersatu dengan orangtuanya. Pihak berwenang telah mengeluarkan pengumuman anak hilang di media sosial.

Kantor berita Asvaka menduga orangtua bayi tersebut diduga tinggal di PD-5, Kabul. Bayi tersebut terpisah dari orangtuanya selama mereka berebut untuk meninggalkan Afghanistan.

"Kantor berita Aśvaka berusaha membantu mereka menemukan bayi mereka melalui pengumuman yang hilang di media sosial," berdasarkan kutipan kantor berita itu di Twitter.

Sementara itu, netizen mengungkapkan kesedihan mereka atas nasib bayi berusia tujuh bulan dan hidup orang lain yang hancur akibat serangan Taliban.

Selain itu, tak sedikit netizen yang melontarkan kritik pedas terhadap lembaga internasional dan juga Amerika Serikat yang membiarkan situasi seperti itu terjadi di Afghanistan.

Reporter: Cindy Damara

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel