Pendulang Trigol Mematikan di Panggung Piala Dunia : Layak Diuji atau Ojo Dibandingke ?

Bola.com, Jakarta - Kita boleh-boleh saja terkesima dengan Lionel Messi, karena La Pulga memang layak untuk itu. Di Piala Dunia 2022 Qatar, Messi kembali mengusung misi berat. Tak hanya untuk dirinya, tapi juga buat rakyat Argentina serta pemuja La Albiceleste di seantero jagat.

Piala Dunia bukanlah pentas yang menggembirakan bagi Messi, setidaknya sampai saat ini. Di usianya yang kian uzur, 35 tahun, legenda Barcelona yang kini memperkuat Paris Saint-Germain itu belum pernah sekalipun memenangkan Piala Dunia.

 

Magnet Batigol

Gabriel Batistuta dari Argentina. Ia mencetak 10 gol selama mengikuti Piala Dunia tahun 1994, 1998 dan 2002 (Istimewa)
Gabriel Batistuta dari Argentina. Ia mencetak 10 gol selama mengikuti Piala Dunia tahun 1994, 1998 dan 2002 (Istimewa)

Tapi kita jangan sampai melupakan nama ini: Gabriel Batistuta. Ya! Batistuta. Kalian pendukung Argentina, pastilah mengenalnya.

Seperti halnya Maradona, walau tak segermelap El Pibe de Oro tentunya, Batistuta layak dikenang. Bersama Batistuta, Tim Tango menjadi yang terkuat di dua Copa Amerika, yakni di edisi 1991 dan 1993.

Di pentas Piala Dunia, eks tukang gedor Fiorentina yang masih sangat dicintai fans La Viola hingga kini itu memang tak seberuntung Maradona. Namun, Batigol, demikian dia dijuluki, setidaknya pernah menorehkan pencapaian hebat dalam dua episode Piala Dunia via hat-trick yang mengagumkan.

 

Trigol Mengagumkan

Gabriel Batistuta. Striker asal Argentina ini direkrut AS Roma dari Fiorentina senilai 36,15 Juta Euro pada awal musim 2000/2001. Total 2,5 musim di AS Roma hingga pertengahan musim 2002/2003 tampil dalam 87 laga dengan mencetak 33 gol dan 8 assist. (AFP/Gabriel Bouys)
Gabriel Batistuta. Striker asal Argentina ini direkrut AS Roma dari Fiorentina senilai 36,15 Juta Euro pada awal musim 2000/2001. Total 2,5 musim di AS Roma hingga pertengahan musim 2002/2003 tampil dalam 87 laga dengan mencetak 33 gol dan 8 assist. (AFP/Gabriel Bouys)

Pertama tersaji di Piala Dunia 1994, kala Argentina berjumpa Yunani dalam laga pembuka grup D. Bahu membahu dengan Maradona di lini depan, Argentina menang telak 4-0.

Sebelum Maaradona menutup pesta gol pada menit ke-60, Batigol sudah lebih dulu membawa La Albiceleste unggul lewat hat-trick-nya. Hanya saja, langkah Argentina terhenti di babak 16 besar setelah kalah adu penalti kontra Rumania.

Maradona harus merasakan malu karena pulang lebih awal dari Amerika Serikat. Hal itu terjadi setelah dirinya terbukti menggunakan obat terlarang lewat tes doping yang dilakukan FIFA.

Empat tahun berselang di Prancis, Piala Dunia 1998, Batistuta juga menggila. Usai menaklukkan Jepang 1-0 dalam laga pembuka Grup H, Argentina kembali menjadi neraka bagi Jamaika.

 

Siapa Mereka?

Perkasa, Argentina menang besar 5-0. Trigol yang dikemas Batistuta menyempurnakan sepasang lesakan yang lebih dulu dikepak Ariel Ortega beberapa menit sebelumnya. Sial, nasib baik tak berpihak. Asa untuk mengulang sukses seperti Piala Dunia 1978 dan 1986 kembali tak terwujud. Batigol dkk hanya sampai perempat final.

Bukan cuma Batistuta tentunya. Sederet pemain lain juga pernah mencuri perhatian lewat hat-trick mereka di pesta bola terakbar empat tahunan. Mau tahu...? Nih, empat di antaranya.

 

Pedro Pauleta (Portugal)

Piala Dunia: 2002

Putaran: Babak Grup

Pertandingan: Portugal 4-0 Polandia

Tersingkir lebih awal memang menyakitkan. Terlebih bagi tim bertabur bintang macam Portugal. Berada di Grup D, Portugal terjerembab di posisi ketiga yang membuat mereka gagal melangkah ke babak 16 besar.

Tim yang kurang diunggulkan, Korea Selatan, justru bercokol di puncak. Disusul kemudian Amerika Serikat di tempat kedua. Usai tumbang 2-3 dari AS dalam laga pembuka, Portugal sempat bangkit dengan kemenangan 4-0 atas Polandia.

Pauleta jadi bintang dengan trigolnya. Tapi, di laga selanjutnya, Seleccao das Quinas rubuh 0-1 dari Korsel. Kemenangan fantastis ini kemudian membawa Jerman melangkah jauh hingga ke final. Sial, di partai pamungkas, mereka kalah 0-2 dari Brasil.

 

Oleg Salenko (Rusia)

Piala Dunia: 1994

Putaran: Babak Grup

Pertandingan: Rusia 6-1 Kamerun

Rusia alpa di Qatar. Buntut invasi militer mereka ke Ukraina membuat FIFA geram dan melarang Negara Beruang Merah berpartisipasi di Piala Dunia 2022. Padahal, Rusia punya warna tersendiri di kenduri tertinggi.

Pada Pildun 1994, walau akhirnya terhenti di fase grup, Rusia sempat bikin sensasi. Dua kekalahan beruntun dari Brasil dan Swedia tak membuat semangat tempur para penggawa Sbornaya menurun.

Mereka tetap tampil militan dengan menuai kemenangan 6-1 atas Kamerun. Oleg Salenko yang pernah memperkuat Dynamo Kyiv dan Valencia, mencetak hat-trick. Salenko sekaligus memenangkan Sepatu Emas bersama legenda Bulgaria dan Barcelona, Hristo Stoichkov. Keduanya sama-sama mengumpulkan enam gol.

 

Tomas Skuhravy (Cekoslovakia)

Piala Dunia: 1990

Putaran: 16 Besar

Pertandingan: Cekoslowakia 4-1 Kosta Rika

Skuhravy hanya butuh tambahan sebiji gol lagi untuk membawa pulang Sepatu Emas. Mengantungi lima gol dan menjadi pencetak gol kedua terbanyak di Piala Dunia 1990, legenda Genoa tersebut cuma terpaut satu lesakan dari tombak Italia, Salvatore Schillaci.

Skuhravy memang cihui. Di pentas seketat Piala Dunia, dia hanya butuh dua laga untuk mendulang pancagol. Dwigol berhasil dia lesakkan kala Cekoslowakia meremukkan Amerika Serikat dalam laga pembuka Grup A.

Lalu, di babak 16 besar yang berakhir dengan kemenangan 4-1 atas Kosta Rika, Skuhravy memborong tiga gol. Apa boleh buat, kebuasan Skuhravy terhenti setelah Cekoslovakia dikalahkan Jerman Barat di perempat final.

 

Michel (Spanyol)

Piala Dunia: 1990

Putaran: Babak Grup

Pertandingan: Spanyol 3-1 Korea Selatan

Tak seperti sekarang, dalam beberapa edisi Piala Dunia sebelumnya Spanyol bukanlah siapa-siapa. La Furia Roja belum terkenal dengan tiki-takanya seperti ketika menjadi yang terbaik di Piala Dunia 2010.

Pada edisi 1990, Tim Matador tak lebih dari peserta penggembira semata. Sebelum tersingkir di babak 16 besar, Spanyol tampil keren di Grup E dengan torehan dua kemenangan serta sekali imbang.

Mereka Menggebuk Korea Selatan 3-2, dan Michel menjadi bintang sekaligus pahlawan kemenangan via hat-trcik. Kala mengalahkan Belgia 2-1, Michel juga menyumbang satu gol. Kira-kira masih ada yang ingat dengan dia, nggak ya?